Selasa, 11 April 2017

Gerimis,

Hmm, 
Hujan lagi... entah sudah berapa kali hujan yang kudapati di kota pelajar ini. 2 tahun lebih aku menimba ilmu di Yogya. Entah sudah berapa banyak ilmu yang ku serap, entah sudah berapa petuah dan nasihat yang ku dapat. Aku lupa, atau aku memang tidak mencoba mengingatnya.
 Mungkin memang aku yang pemalas. Tidak mau berusaha dan senang dalam kondisi tanpa tekanan, setidaknya untuk sekarang. Hmm, menyusahkan sekali.
 Dulu, iya, dulu sekali saat masih di SMA aku sudah membulatkan tekad untuk kuliah tanpa mengikuti kegiatan apapun yang tidak ada hubungannya dengan kuliah. Lulus 3,5 tahun dengan ipk cumlaude. Berfoto bersama keluarga dengan slempang bertuliskan cumlaude ketika wisuda. Lalu kembali dengan segudang prestasi. Menjadi guru teladan di tanah sendiri, diangkat menjadi PNS lalu hidup berkecukupan dengan istri. Mempunyai anak yang berbakti, dan menjalani kehidupan dengan penuh arti. Hmm, mimpi yang indah, indah sekali. Dan kini sudah hampir 2 tahun aku ikut organisasi. Satu mimpiku tidak terwujud.
Aku juga sudah lupa bagaimana awalnya aku tertarik hingga akhirnya ku tercebur dalam dunia ini. lagi.

Lagi ?, ya begitulah, kenapa aku bermimpi untuk tak ikut lagi dengan organisasi ?  karena sudah pernah dan aku merasa itu sudah sangat cukup. Lalu kenapa aku akhirnya ikut  lagi ? sudah ku katakan kalau aku lupa. Jadi jangan tanyakan lagi. 
Benang – benang cerita pun teruntai terus dan terus teruntai. Entah sudah berapa helai kain cerita dengan gambar dan motif yang berbeda ku untai. Entah berapa banyak orang yang kulibatkan dalam untaian benang – benang ceritaku. Entah kapan untaian itu dimulai, dan entah kapan cerita dari untaian itu akan berhenti.  Dan yang pasti, entah masih ku ingat atau sudah ku lupakan... Waktu mengalir begitu saja tanpa peduli dengan apa yang terjadi pada manusia didalamnya. Aku salah satunya. Seperti merasa tiba – tiba aku disini, tiba – tiba saja aku disana, tiba – tiba terjadi ini, tiba – tiba saja terjadi itu. Dan yang terjadi tidak semuanya aku mengerti, tidak semuanya aku pahami. Waktu menabrak, mendorongku untuk melakukan banyak dan banyak hal, yang tidak kurencanakan, yang tidak kupikirkan, bahkan bukan yang ku impikan. Lalu apa gunanya aku bermimpi ? 
“Woy Ze, lagi ngelamunin apa coy ? “  Temanku, namanya Arza, teman satu organisasiku. Entah sejak kapan kita saling kenal, aku sudah lupa. Untung namanya  masihku ingat, hehe “nda ngelamunin apa – apa , sedang menikmati hujan, hehe “  “ memang hujan ada rasanya ? “ , “ hmm, ada. Rasa (h) mbayar” jawabku ngawur. “ eh besok bukannya bidangmu ada kegiatan ?” “iya,”

“gimana persiapannya, acaranya, konsumsi, pembicara, beres ?” , pertanyaan bertubi – tubi darinya. Pertanyaannya yang banyak dan bertubi – tubi layaknya tugas kuliah membuatku malas menjawab.   “beres” , jawabku sangat singkat.  Kita saling diam untuk beberapa saat, menikmati indahnya hujan. Hujan yang tidak begitu deras, atau sebut saja gerimis. Menetes dengan mudahnya, mungkin. Kelihatan sangat mudah, tinggal jatuh saja, lalu mengalir, dari atas ke bawah. Atau dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Lalu berhenti pada satu ujung muara. Dan selesai. “Ar... , kenapa kita, atau mungkin kau saja, kenapa kau mau, merepotkan dirimu sendiri di organisasi, ?” “maksudmu ?” “ya, begitu, mau – maunya kau peduli pada keadaan orang lain, belum tentu orang lain peduli padamu kan, melakukan hal yang belum tentu dihargai orang lain juga. Padahal jika kau tidak melakukannnya juga tidak akan masalah bagimu” kali ini pertanyaanku yang banyak. Mungkin Arza malas menjawab juga.  “padahal kau juga ikut organisasi, Ze...” “iya si, tapi, aku belum tahu jawaban pertanyaan itu, aku sekedar melakukan, apa yang seharusnya ku lakukan, aku ada di sebuah bidang, dan aku melakukan proker, melakukan tugasku, hanya itu, tapi sungguh, itu  berbeda dengan yang kau lakukan” “memang apa bedanya ?”  Pertanyaan yang sulit yang tak bisa ku jawab.  “apa ya, hmm, entahlah, kelihatan berbeda saja”


“kau tahu ze ...”  Belum sempat dia melanjutkan kalimatnya aku memotong sambil bercanda. “aku nda tahu, beritahu makanya” “tuh, ada yang jual, lima ratusan digoreng dadakan, masih anget, atau kamu mau ku goreng sekalian, hehe “ Dia memang supel, mudah bercanda, dan bisa dekat dengan siapa saja. 
“Ze, apa kau pernah berpikir bahwa apa yang kita lakukan ini belum ada apa – apanya, dibandingkan dengan Nabi kita, okeh, tidak perlu nabi kita, sahabat – sahabatnya , atau jika terlalu jauh, para imam, jika masih belum juga para wali, atau bahkan guru ngaji kita di desa. Sungguh Ze, aku merasa aku ini jika dibandingkan guru ngajiku dulu, bahkan yang hanya tamatan SD, lebih bermanfaat beliau. Ku akui guru ngajiku itu tidak terlalu fasih membaca al Quran, bahkan jika dibanding kau Ze, masih kalah. Tapi sudah berapa lama beliau mengajar anak – anak ngaji, beliau mengajarkan apa yang beliau tahu dan beliau pahami, itu sudah lebih dari cukup. Bayangkan saja, jika satu tahun, tiap angkatan yang ngaji kepada beliau ada 5 orang saja. Bisa baca al Quran dasar, tak perlu sampai bisa melagukan, tak perlu bacaan yang indah, jika mereka membaca, sehari seayat saja, pahalanya akan terus mengalir Ze, 5 orang, sehari 5 ayat, setahun 365 hari, ada banyak ayat Ze, dan beliau sudah mengajarkannya bertahun – tahun,  bahkan sampai di kubur akan terus mengalir bagai mata air yang tidak pernah kering. “ Arza benar, aku tahu jalan pikirannya. Bukan masalah kau sehebat apa, kau lulusan sarjana atau bukan, tapi seberapa bermanfaat dirimu dilingkunganmu. Tidak harus di akui, juga tak perlu penghargaan.


Seharusnya semakin banyak ilmunya, semakin tinggi gelarnya, maka kebermanfaatannya bagi sekitarnya juga jauh lebih besar. Jika guru ngajiku dulu bisa begitu besar manfaatnya, harusnya aku lebih dari itu. Dimanapun kita berada, karena sekarang aku dikampus, ya bermanfaatlah dikampus. 
 “memangnya kau tidak pernah kecewa Za ? “ Aku yakin dia sudah paham dengan pertanyaanku, dalam organisasi, selalu saja ada yang selalu merasa dikecewakan, selalu merasa disendirikan, merasa tidak dibantu, tidak ada yang peduli, dan banyak hal mengecewakan lainnya. Itu mungkin hanya pengalamanku saja, mungkin hanya organisasi yang aku ikuti yang seperti itu. 
“hmm, jika kau membiarkan dirimu kecewa, ya kau akan kecewa.”
“maksudnya.. ?”
“gimana ya, sayangnya yang ikut organisasi adalah makhluk yang bernama manusia. Yang namanya manusia itu, sulit ditebak, bisa berubah kapanpun mereka mau, kapan pun mereka inginkan. Dengan berbagai watak dan berbagai latar belakang. Kecewa muncul karena apa sih , karena seseorang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, atau keadaan dimana kita merasa sendirian di organisasi.”  Arza diam, sepertinya sedang menyusun kalimat yang hendak ia ucapkan.
Aku juga diam saja, aku ingin mendengar jawabannya utuh, tanpa terpotong.
“jika kau kecewa karena seseorang yang tidak sesuai yang kau inginkan, atau keadaan yang tidak kau harapkan, maka seharusnya kau tidak boleh kecewa. Jika harapan kita selalu terwujud, dan yang namanya kebahagiaan tanpa kekecewaan itu hanyalah merujuk pada keuntungan buat diri kita, itu namanya egois. Kalau begitu, maka orang lain juga berhak bahagia dengan merujuk pada keuntungan mereka sendiri, dan sayangnya, kita itu tidak hidup sendirian, apa yang kita perbuat akan mempengaruhi orang lain, pun juga sebaliknya. Jadi jika ingin membuat dirimu kecewa ya kau akan kecewa“.
 Padahal aku butuh jawaban yang lebih praktis dan ringkas. Tapi aku tahu Arza sudah mencoba menjawab dengan sejelas – jelasnya.
  “masih mau wawancara lagi ?” Arza kali ini bertanya.
“hmm, sepertinya cukup, hehe, jawabanmu panjang, aku agak malas mencernanya, “.
“ wah, percuma dong aku ngejelasin tadi”
“tenang, malas bukan berarti tidak melakukan, tetap kucerna kok, hhe”
“eh, Ze.. kau punya mimpi apa sekarang ?” Pertanyaan yang bahkan sedang ku tanyakan pada diriku sendiri, mimpiku sekarang apa ya ?
“aku nda tahu juga si, Za.. , mengalir saja, biar ku jalani saja waktu yang terus saja berlalu, lagian banyak mimpiku dulu yang akhirnya tidak terwujud, jadi bingung mau bermimpi lagi atau tidak, hehe”
“ kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup, kata bang Buya Hamka” kata Arza, “sayangnya aku bukan Buya Hamka Za, dan aku juga tidak harus ikut yang beliau katakan kan, bagiku hidup yang mengalir juga tidak buruk. Tenang dan damai, nda ribet.
“Tapi, kayanya kau taat peraturan yang ribet Ze,”
“Orang yang nda suka ribet harusnya taat peraturan, ikut peraturan saja ribet apalagi menyalahi aturan. Tambah ribet lagi. Peraturan sudah capek – capek dibuat,  biar urusan mudah. Kita tinggal pakai saja. Kok mau – maunya nambahin ribet.”
“dan soal mimpi, memangnya ada mimpimu yang terwujud Ze ?”
“ada sih,”
  “nah, setidaknya, jika kau punya mimpi dan harapan, kau masih punya hari esok untuk bangun dan melakukan sesuatu, gagal atau tidak si itu urusan lain, tapi kau punya sesuatu yang pantas kau usahakan, kau perjuangkan, jika bukan untukmu saja, maka buatlah untuk orang – orang yang kau sayangi, cukup kan ?”
“iya, lebih dari cukup”
Hujan tidak bertambah deras, tapi masih saja tetap hujan. Sudah ku duga, hujan akan tetap indah, bahkan jika hujan itu hanya jatuh lalu mengalir, sesederhana itu.  Mimpiku dulu banyak, kini juga banyak, ada yang berubah, lebih banyak yang ku ubah. Sudah banyak yang jadi kenyataan dan kuwujudkan, tak kalah banyak  yang terhenti pada angan dan bayangan.   Setidaknya ada alasan untuk tetap berjalan, menapaki kehidupan ini,
Hmm, ada banyak mimpi yang sudah tak dapat lagi kuwujudkan, maka akan kuciptakan mimpi – mimpi selanjutnya,.. Jika berhenti, maka berarti aku tidak bisa lagi bermimpi,,,
Hmm,  Langit masih biru, dan hujan telah berhenti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar