Hmm,
Kemarin ceritanya nganter temen untuk tes seleksi CPNS di timur GOR Among Rogo, karena
dari proses registrasi sampai ke tes nya membutuhkan waktu yang lama (mungkin
dari regis sampai selesai tes lebih kurang 2 jam) maka saya bawa laptop buat
temen nunggu temen yang lagi berjuang tuh (temen nunggu temen, hehe). Oke deh
saya buka laptop dan mulai membuka file anime, hmm, mending nonton yang movie
sj ya, biar pas gitu waktunya. Ku buka anime Bungo Stray D, hehe sebenarnya
saya nggak terlalu suka anime model begini, maksudnya anime yang punya tokoh
utama sok2an dan bikin temen2nya terluka dan kerepotan karena dia, kaya fate
stay knight, ao no exorsist, kaya siapa lagi ya, hehe pokoknya yang tokoh utamanya plin – plan,
labil, nggak jelas, punya kekuatan hebat tapi nggak sadar dan nggak bisa pake
tu kekuatan, keluarnya pas temennya udah mati semua, haha btw saya nggak suka
tokoh utamanya saja, bukan berarti saya nggak suka animenya, cuma nggak terlalu
suka, hehe masih ada tokoh lain yang menarik, kaya Dazai di anime BSD. Oke deh,
karena saya punya movie nya dan belum ku tonton, jadi ku tonton disitu aja
sambil nunggu.
Lagi nonton, tiba2
seorang mba2 datang menghampiriku. Eh bukan,
dia lebih tertarik pada stop kontak di dekatku, hehe. Intinya dia mau ngecas Hpnya
yang lg sekarat. Ketika dicoba, ternyata di stop kontak itu tidak ada elektron
yang mengalir, sehingga arus pun tak ada, yang menyebabkan stop kontak tak ada
listriknya, intinya mba tadi tidak bisa ngecas HP nya disitu. Menyadari hal
itu, maka saya menawarkan untuk ngecas di laptopku saja pakai kabel data, oh,
mba nya mau. Maka laptop ku tidurkan (sleep), agar tetap bisa ngecas dan saya
menghargai dia. Masa dia ngecas, saya nonton anime, kan nggak lucu. Lalu cerita
pun dimulai,...
Mba ini
memperkenalkan namanya, dia mba R, aku juga memperkenalkan namaku. Mba R berasal
dari Grobogan, Jateng. Masih muda, ku kira kita hampir sepantaran, ku taksir
mungkin usianya sekitar 25 tahun (hehe aku nggak tanya lh ya). Orang kebanyakan,
guru bahasa jawa di SMA, muslimah, pake kerudung soale hehe, tapi biasa saja,
pake celana dan baju yang biasa saja seperti orang kebanyakan, cantik
(relatif), agak kalem (kami lumayan sering saling diam), orangnya super baik
(kesimpulan setelah mendengar banyak ceritanya).
Entah bagaimana
cerita kami berawal, tapi mengalir dengan baik, enak diajak ngobrol (nyambung
dg saya hehe). Ternyata Mba R adalah ibu dari seorang anak yang berumur 3 tahun
dan istri dari suami yang keren. Suaminya jadi guru SD. Dua2nya masih belum
PNS. Mba R sudah mengabdi di sekolahnya selama 7 tahun, mulai dari 2011
(berarti saya baru masuk SMA, beliau sudah ngajar), taksiran umur saya salah. Yang
membuat saya salut pertama adalah dia seorang istri yang baik (suaminya jg
mantap guys). Hmm, gaji nya sebagai guru 3x lipat dari gaji suaminya, maklum
kan ya, SMA masuk dalam kewenangan Provinsi, jadi di sesuaikan dengan UMR
provinsi, sedangkan guru SD tidak begitu. Gaji suaminya juga bisa diambil 3
bulan sekali saja. Yang bikin keren adalah semua gaji suaminya diserahkan ke
istrinya tanpa sisa sedikitpun. Berarti suaminya sangat percaya dengan mba R
ini sebagai istri. Kan ada yang suaminya mbagi2 uang, ada yg buat sendiri, ada
yang buat istri, ini nggak, semuanya dilimpahkan ke mba R. Maka mba R dengan
gaji yang lebih besar ini tidak menyombongkan gajinya, dia terima uang nafkah
dari suaminya dan digunakan serta diaturnya untuk kebutuhan keluarga, katanya
biar lebih berkah kalau uang nafkah suaminya untuk kebutuhan keluarga, gitu. Maka keberkahan itu muncul nyata. Suatu ketika
(tahun lalu), mba R punya info tentang rekruitmen guru Indonesia di LN, singkat
cerita suami mba R ini daftar, dan setelah berbagai seleksi, diterima. Suami mba
R ditempatkan di Malaysia. Ini yang bikin saya tersentuh, hehe jadi yang jauh
disana (si Suami) mengirim uang gajinya lebih banyak ke rumah dibanding untuk
kebutuhannya sendiri disana, karena dia adalah kepala keluarga dan memang
kewajibannya mencari nafkah. Saya bisa
bilang suaminya ini sangat keren. Mba R lebih keren lagi, hehe uang suami yang
di dapatkannya itu digunakan secukupnya untuk kebutuhan keluarga, padahal dia
sendiri tahu dan dia bilang kalau menang banyak, hehe iya menang banyak, gaji
suaminya punya bagian untuknya, belum gajinya sendiri yang 100% miliknya, nggak
kaya punya suami yang masih ada bagian keluarga, tapi apa yang dia bilang pada
saya, “gaji suami ada yang saya simpan, kalau nanti suami saya balik (guru
SILN, sistem kontrak), kalau dia pengin beli apa2 atau pengin mewujudkan yang
diinginkannya kan masih ada uangnya, masa dia udah kerja keras disana, udah
banting tulang, tapi nggak merasakan hasil kerja kerasnya, saya kalau pengin
apa2 tidak pakai uang suami, meski boleh, saya pake uang sendiri”. Saya meleleh, hehe. Insting
saya sebagai seorang lelaki, yang diinginkan oleh suaminya adalah mewujudkan
keinginan (kebahagiaan) istri dan anaknya. Mereka pasangan yang mantap sekali.
Oh iya, hari itu mba R Cuma mengantar temennya
yang tes, dia sendiri sudah tes, dan gagal. Kelegawaannya benar2 tipe saya,
hehe. Kan ada yang legawa tapi masih menyesalkan gitu ya, udah jauh2, nggak
lolos, dll. Tapi dia ini, y udah, belum rejekinya, dan ketulusannya terpancar
dg jelas, bahwa dia baik2 saja dan sangat menerima hasil itu. Selain itu di
Jogja dia dibantu banyak orang, mulai dari muridnya yang kuliah di jogja dan
teman gurunya (berarti terbukti dia bener2 orang baik). Kalau dipikir2 lagi,
kenapa ya Alloh belum kasih tuh PNS buat rejekinya. Hmm, analisis saya sebagai
manusia yang bodoh hanya sampai pada biar waktu untuk keluarga lebih banyak,
selain itu suaminya jg daftar cpns, semoga suaminya yang diterima, jadi lebih
berimbang gitu dari segi penghasilan, walaupun sekarang suaminya masih jd guru
di LN, tapi kan suatu saat akan pulang, akan sangat bagus kalau PNS nya
diterima. Ku doakan mba.
Selain cerita
tentang kehidupan keluarganya, kami juga bertukar pikiran sebagai sesama
sarjana pendidikan. Ternyata kegelisahanku dirasakan juga olehnya, siswa SMA
(dia guru SMA, aku jg calon guru SMA) terlalu padat jadwal pelajaran, hehe
bayangpun dari jam 7 sampai jam 3 di sekolah,
dengan segudang pelajaran, belum lagi ekskur, dan kegiatan lain, kapan
waktu istriahat dan bercengkrama sama ortunya ya, hehe kita sepemikiran banget,
menurutku juga gitu. Guru si lebih mending ya, maksudnya dia kan hanya mikir
pelajarannya dia (meski pusing di administrasi), satu materi bisa sama buat
semua kelas di hari itu, lah kalau murid, jam pertama MTK, jam kedua Fisika,
jam ketiga Kimia, sampai jam ketujuh, hehe meledak deh tuh kepala. Lagi – lagi saya hanya bisa bilang dan nulis,
belum bisa melakukan apa2. Yang saya usahakan bukan merubah sistemnya, mungkin
saya tidak punya kuasa, dan biarkan orang2 diatas sana yang memikirkan sistem
terbaik pendidikan di negeri ini, hehe saya pasif sekali ya, y biarin lah, maka
yang bisa saya lakukan adalah menjadi guru terbaik, agar pelajaran yang saya
berikan, menyenangkan bagi murid2 saya, tidak menjadi beban, dan tidak membuat
muntah2 pada fisika. Itu saja cukup.
Hehe, dan
akhirnya waktu juga yang mempertemukan dan memisahkan kita mba. Kau hebat
sekali, kau benar2 tipeku, orang biasa kelihatannya, tapi sangat luar biasa. Jika
ada satu lagi yg kaya kamu mba semoga Alloh sisakan satu untukku, hehe yah
tentu saja aku harus jadi suami yang sebaik suami mba juga kan ya, biar istriku
nanti juga beruntung. Selain itu pengabdian dan ketulusanmu sebagai guru patut
diacungi jempol, mantap kali. Aku tidak berharap ketemu lagi hehe nanti aku iri
pada suamimu, ku harap keluargamu sehat selalu mba, semoga suami juga segera pulang
dan diangkat menjadi pns. Sayonara mba R, terima kasih atas cerita dan
pengalaman yang kau bagikan, kau sangat keren...
Yogya, 2 November
2018