Selasa, 29 Oktober 2019

Prioritas


Hmm,
Setiap orang itu unik. Dengan keunikannya kebutuhan dan keinginan setiap orang juga berbeda – beda. Karena kebutuhan dan keinginan orang berbeda – beda, maka prioritas orang juga tidak sama. Misalnya tidur saat akhir pekan lebih penting bagiku dibanding pergi liburan, mungkin orang lain akan memilih liburan dibanding tiduran saja sepertiku. Itulah prioritas.
Tiap orang pasti punya caranya sendiri2 untuk menentukan prioritasnya, tapi dulu aku pernah dapat materi tentang prioritas, setiap tahun saat pergantian pengurus  organisasi, berarti 3x, hehe fiqh prioritas kalau syar'inya hehe waktu itu yang dibahas memang lebih menjurus ke ibadah, misal sunah dan wajib tentu saja didahulukan yang wajib, wajib khifayah dan wajib ‘ain, lebih di dahulukan yang wajib ‘ain dulu, tapi ada juga yang menyangkut kehidupan, dan bisa diterapkan untuk segala aspek kehidupan, tidak hanya masalah ibadah.
Mungkin ini sudah sering dibahas dibanyak tempat dan motivasi, yupss, dengan menggunakan diagram berikut

Dari diagram itu akan terlihat ada 4 kuadran,
Kuadran 1 itu yang lebih penting dan lebih mendesak, berarti harus segera dikerjakan, misal sakit, berarti harus segera ke dokter, atau lapar, berarti harus segera makan
Kuadran 2 itu yang penting tapi kurang  mendesak, misal nabung, nabung itu penting, tapi tidak harus selalu kalau ada kebutuhan lain yang harus dipenuhi
Kuadran 3 itu mendesak tapi kurang penting, hmm, misalnya ada diskon khusus di hari itu saja, bisa masuk ke kuadran 1 sebenarnya, tapi jika yang dapat diskon itu bukan barang yang penting, meski mendesak mending dipikirkan dulu, hehe
Kuadran 4 itu kurang penting dan kurang mendesak, misalnya apa ya, liburan sendirian, hehe
Apa kuadran itu pasti ?, tidak2, skala prioritas bisa berubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Misal, kita pasti sepakat kalau sholat itu penting, dan sholat di awal waktu itu paling utama, mendesak juga berarti, kuadran 1 dong, penting dan mendesak, tapi coba kalau mau sholat terus ada panggilan alam. Kebelet, hehe tentu saja kebelet itu lebih mendesak dan penting, begitulah prioritas bisa berubah, atau misal liburan, kalau sendiri bukanlah prioritas, tapi kalau bareng dia, jadi mendesak dan sangat penting, hehe
Hehe, ya lagi2 tiap orang punya prioritas sendiri, tapi benar juga, mungkin diagram tadi lumayan membantu untuk menentukan apa yang sebaiknya kita lakukan, apakah liburan itu penting, apakah membeli sesuatu itu berguna, apakah yang akan kita lakukan itu bermanfaat, apakah itu memang apa yang kita butuhkan ?, entahlah, hehe yang tau hanyalah diri sendiri, bahkan kadang kalau sudah tau akan tidak berguna, tapi tetap saja dilakukan, itulah keinginan, y mungkin tidak masalah sesekali, jangan sampai berkali – kali, karena dunia ini cukup untuk kebutuhan semua orang, tapi tidak akan cukup untuk keinginan satu orang, hehe
Y semoga kita tau kebutuhan kita sendiri, dan menyusun prioritas kita dengan benar, atau setidaknya sebelum melakukan sesuatu, kita sempatkan untuk berpikir dulu, sesuatu itu, penting gak sih ?
Selamat beraktifitas . . . .

Kendal, 29 Oktober 2019


Kamis, 24 Oktober 2019

Teman Baik (3)


Tipe X, 
Selamat Jalan
Terlalu lama engkau terkenang
Hancurkan diri kian jauh tenggelam
Lelah mencoba 'tuk lepaskan beban
Kau beli mimpi semu tak berarti sendiri
Tak mampu kau beranjak pergi
Jalan yang panjang nanar kau tatap
Tak lagi peduli semua yang terjadi
Semakin dalam larut anganmu melayang
Mimpimu hadirkan semua penantian
Alunan apa ajak kau bernyanyi?
Akhirnya kau pun pergi
Tak kembali
Banyak sudah kisah yang tertinggal
Kau buat jadi satu kenangan
Seorang sahabat pergi
Tanpa tangis arungi mimpi
Selamat jalan kawan cepatlah berlabuh
Mimpimu kini telah kau dapati
Tak ada lagi seorang pun yang mengganggu
Kau bernyanyi
Tiap haruku hanya sanggup mengingat
Jelas bayangmu yang masih melekat
Dalam kecewa 'ku hanya mampu katakan
Tetaplah tersenyum
Karena itu jalan yang telah kau pilih
Terbanglah, oh terbanglah
Bersama pelangi
Banyak sudah kisah yang tertinggal
Kau buat jadi satu kenangan
Seorang sahabat pergi
Tanpa tangis arungi mimpi
Selamat jalan kawan cepatlah berlabuh
Mimpimu kini telah kau dapati
Tak ada lagi seorang pun yang mengganggu
Kau bernyanyi
Semoga dalam damai engkau mengerti
Arti dalamnya jalan yang kau daki
Hingga indahnya bias mentari
Tak lagi kau nikmati
Selamat jalan kawan cepatlah berlabuh
Mimpimu kini telah kau dapati
Tak ada lagi seorang pun yang mengganggu
Kau bernyany
i


Hmm,
untuk temanku, kau sudah lama pergi,
hari ini aku merindukanmu,
entah kenapa, 
hehe dulu kita bercerita tentang mimpi2, kau mau melanjutkan ke Belanda, ke Utrech, aku ke Jepang,
mungkin mimpimu tidak dikabulkan di dunia, karena kau sudah tidur untuk selamanya
aku, masih ingin mengejar mimpiku itu,
untukmu juga,
dulu, awal2 kau sakit, aku menjengukmu, masih di puskesmas di Wonosari, katanya kau hanya radang tenggorokan, tubuhmu masih gemuk, hehe
lalu kau dirujuk ke RS Sardjito, ternyata kamu kanker, saat aku menjengukmu kedua kali, kau semakin kurus, tapi lehermu besar, aku sedih, bicaramu sudah tidak lancar, rambutmu sudah rontok, aku, sedih sekali, kamu masih saja bercanda dan tersenyum,
lalu datanglah berita itu, kamu kritis dan butuh darah, padahal golongan darah kita sama, tapi aku tidak bisa apa2, aku sangat sedih,
lalu datang kabar berikutnya, kau tertidur, untuk selamanya,
selamat beristirahat bro,
hmm, selamat berlabuh

Kendal, 24 Oktober 2019

Minggu, 20 Oktober 2019

Orang Terpilih


Hmm,
“orang2 terpilih”, Aku seringkali mendengar itu, terutama sejak mulai masuk kuliah. Entah itu pidato Rektor, Dekan, ketua BEM, ketua HIMA, ketua Rohis, dan ketua2 lainnya. Juga Binsu latsar, pemateri latsar dan lainnya. Sejujurnya aku tidak suka dengan konsep dan kata2 orang terpilih.
Kenapa ya, mungkin yang pertama karena itu sangat keakuan dan egois. seolah aku masuk organisasi, masuk kuliah, diterima cpns, untuk diakui. Itu sudut pandangku si, tentu saja aku yakin mereka sedang berniat baik dengan memberi motivasi bahwa aku salah satu diberi kesempatan dan aku harus melakukan yang terbaik, aku tau itu.
Yang kedua, selain alasan untuk diakui, hmm, seolah konsep orang terpilih menganggap orang diluar kelompok adalah orang2 yang tidak terpilih. Iya, memang benar ada banyak orang yang tersisih dan benar juga, tidak terpilih. Tapi ku pikir bukan karena mereka tidak punya kemampuan hebat lain, hanya saja kebetulan saja spesifikasiku sesuai yang dibutuhkan, masuk organisasi, masuk kuliah, dan masuk kerja. Orang lain, mereka bukanlah orang yang tidak terpilih, mereka punya tempat lain untuk dipilih, mungkin akan ada yang jadi pengusaha, pemusik, atau jadi sesuatu yang lain. Yang mungkin saja, lebih hebat dari yang tidak terisisih.
Yang ketiga, seolah manusia punya level yang berbeda. Maksudku dengan masuk kuliah jurdik fisika aku lebih pintar, masuk Rohis aku jadi lebih islami, masuk CPNS aku lebih terhormat. Menurutku semua manusia sama saja, maksudnya punya kelebihan dan kekurangan, terlepas dari dia orang baik atau jahat, terlepas dia dekat dengan kita atau tidak,  dia takwa atau tidak, kita semua punya potensi kelebihan dan kekurangan. Mau baik atau tidak, mau dekat atau tidak, kita bisa memilihnya sendiri. Nyatanya orang pintar yang jahat juga banyak. Padahal saat kembali ke Tuhan, mungkin orang gila malah lebih mulia, karena tidak bisa berpikir, sehingga tidak perlu dimintai pertanggungjawabannya. Entah dia masuk surga atau tidak, aku tidak tau.
Ya sebenarnya tidak salah juga, tapi aku merasa tidak cocok saja, karena semua orang adalah orang terpilih, hanya jalan ninjanya beda2, mungkin.
Orang terpilih atau bukan orang terpilih, kita sama saja, tetap punya hak untuk memilih, apa yang akan kita lakukan, dan menjadi apa pun yang kita inginkan,


Semarang, 20 Oktober 2019

Jumat, 11 Oktober 2019

Hinata (5)



Hmm,
Sejak aku menyukainya saat SMP, mungkin aku terlalu berlebihan. Dia ku tempatkan di tempat khusus, setelah dia pergi, tempat itu ku kunci dan ku biarkan begitu saja. Sayangnya tempat itu, memang khusus buat dia, sedekat apapun aku dengan orang lain. Ruangan itu tidak bisa dimasuki. Terkesan lebay, hehe mungkin memang iya.
Nyatanya tidak ada yang seistimewa dirinya, ku pikir dia memang istimewa karena dia orang yang ku cintai pertama kali, ternyata lebih dari itu. ku pikir, aku bukan orang yang cemburuan, aku seringkali di nomor duakan dalam banyak hal, maksudku bukan tidak dikasih apa2, tapi ya mungkin karena sifatku yang begini, jadi orang lain di dahulukan, masku, adikku, teman2ku.
Ku pikir aku bisa biasa aja dan tidak cemburuan dalam semua hal, ternyata aku salah. Ternyata aku cemburu. Wkwk bukan pada ibuku, bukan pada temanku, tapi pada dia. Terima kasih sudah mengirim foto itu, wkwk menyebalkan sekali, jadi inget lagi kan, hehe aku tidak cemburu dengan foto kalian yang cuma berdua itu, maksudnya memang kalian tidak sengaja foto berdua, kalau sengaja foto berdua, juga tergantung dalam rangka apa, tapi ngapain dah tuh tangan kiri, y mungkin tidak sengaja, tapi y udah jelas ada cewek duduk dibangku, ngapain tangannya harus bersandar dibelakang bangku, ternyata aku sebel, padahal itu cuma foto doang, gimana kalau ternyata dia nikah di depanku, wkwk y mungkin aku tidak hanya patah hati, hehe remuk dah remuk, wkwk tp aku akan tetap datang, kalau libur, sudah tekadku wkwk ngapaian deh, padahal kan bisa saja happy ending.
Ternyata aku cuma cemburu dengannya, dulu aku tidak cemburu dengan cewek lain yang dekat denganku, karena mereka  mungkin membutuhkanku,  bukan karena aku mencintai mereka. Mereka bebas dekat dengan siapapun selain denganku, dan aku biasa saja.
Apakah artinya hanya dia orang yang ku cintai ?
Wkwk entahlah
Aku merasa tidak se setia itu...
Aku tidak mencoba untuk tetap mencintainya, ku biarkan begitu saja, aku tidak peduli.
Walaupun dalam hati aku selalu senang kalau dia menghubungiku..
Di twitter dia selalu muncul diatas,
Lalu kita mulai wa nan pas udah mulai kuliah,
Aku masih tidak peduli dengan perasaanku,
Malah sebaliknya, aku bahkan ingin tidak terikat lagi dg semua yg berhubungan dg masa laluku, ingin ku lepas dan mencari hal yang baru,
Tapi aku tidak bisa bohong, setiap kali kita berkomunikasi, aku senang.
Lalu dia menyarankan untuk  membuka blognya pas aku gabut,
Y sudah ku mulai membaca blognya....
Tak ku sangka dia akan menulis tentang perasaan2nya dan tentangku,
Sejak itu usahaku menghilangkan ikatanku dg masa lalu gagal, tidak2, lebih tepatnya usaha untuk menjadikannya tidak lagi pemilik ruangan itu gagal total. Ruangan itu khusus buatnya, dan kini dia datang dengan perasaan yang tidak berubah. lebih tepatnya dia tidak pernah pergi dari ruangan khusus itu hehe aku tidak bisa menghilangkannnya, karena aku punya rasa yang sama, aku masih menyukainya.
Aku senang, sekaligus sedih.
Aku senang, karena dia selama ini tidak berubah. Hehe, ngapain deh pakai nama itu, wkwk
Aku sedih, karena aku tidak bisa mengatakan kalau aku menyukainya, aku sudah cukup mengerti konsekuensi dari kata2 suka yang mungkin bisa ku katakan kapan saja, tentu karena kita saling suka kita akan saling terikat, mungkin bukan pacaran, tapi tetap saja, kita akan terikat hatinya. Wkwk aku masih kuliah, dia juga, prioritas utama jelas bukan perasaan macam itu, prioritas utamaku y kuliah dengan benar.
Aku mencoba meredam segala gejolak yang berhubungan dengan dia, hehe tidak berlebihan, meski sepertinya aku sering keblabasan.
Aku ingin dia bisa dekat dengan orang yang pantas, mungkin bukan aku. Hehe
Entah sudah berapa tahun, dan baru ku katakan kemarin juli, hehe lama sekali
Katanya dia style orang mencintai beda2, mungkin aku lebih suka menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku,  dan cara ku mencintai seseorang mungkin lebih penting kebahagiaannya dibandingkan harus denganku. Kadang aku tidak habis pikir dengan orang yang memaksakan untuk bersama karena yakin bahwa orang itu merasa dia yang terbaik untuk orang yang disukainya. Aku tidak bisa berpikir semacam itu.
Tapi dia benar, blum tentu dia akan lebih bahagia dengan orang lain, dan tidak lebih bahagia denganku.
Aku mencintainya..
Kenapa ya,
Entahlah,
Mungkin jika butuh alasan, alasanku karena dia sangat setia,
Hehe
Terima kasih telah mencintaiku bertahun – tahun,
Menyebalkan sekali,
Karena sepertinya aku tidak bisa menang dalam hal mencintai, dia selalu lebih unggul.
Apakah aku akan terus mencintainya ?
Apakah dia akan terus mencintaiku ?
Entahlah, hehe
Waktu kadang menyebalkan sekali, semoga kali ini semesta jg mendukung.

Semarang, 11 Oktober 2019