Kamis, 31 Januari 2019

bersyukur dan melihat


Hmm,
Menurutku, kebahagiaan tidak diukur dari seberapa  besar materi yang dipunya, tapi tidak dipungkiri bahwa mendapatkan materi itu bisa membuat bahagia. Apalagi bagi yang sudah berkeluarga, materi bukan lagi keinginan tapi kebutuhan. Memang rizki itu sudah ditetapkan  sama Alloh dan kita cuma disuruh ikhtiar buat mencarinya, tapi karena perbedaan tiap orang dalam menerima rizki itu maka bisa menjadi hikmah bagi orang lain yang melihatnya.
Hari ini aku mandek, bukan berhenti, tapi membuat kaya tanggul (bahasa jawanya pandek) untuk mengantisipasi longsor, kebetulan makam bapak itu agak longsor pas hujan besar waktu itu, jadi kalau tidak di tanggulangi sekarang, maka bisa2 tali pocong bapakku keluar, hehe maka di pandek. Sebenarnya tidak terlalu besar, mungkin panjangnya hanya 4 meter dan tingginya 2 meter, maka ibuku mempekerjakan 2 orang, satu itu lilikku dan satu lagi temennya lilikku, dan aku sendiri sebagai pembantu hehe perusuh kali ya, tugasku sangat mudah, membawa lendut (kapur putih lembut) dari rumahku ke makam, pakai motor hehe berat coy, hehe setengah karung yang agak gede saja aku tidak kuat membawanya, mungkin setara atau lebih besar masa jenisnya dibandingkan semen. Jadi aku mengisinya setengah kurang dulu, lalu ku naikkan motor, lalu ku isi sampai penuh, lalu ku bawa ke makam, lalu turunnya ku standarkan motor, lalu ku dorong deh tuh karung.  Karena ini dirumahku maka aku duluan yang membawa lendut ke makam, ku mulai sekitar jam 6 biar nggak panas. Oke deh, 1 2 3 karung, dst
Sampai lilikku datang aku masih membawa lendut, sudah lumayan buat sekali adukan, hehe meskipun secara akademis, keluargaku lumayan maju, tapi aku dan saudaraku juga diajarkan hidup rekasa, rumah kami yang mbangun ya kami sendiri (dengan bantuan beberapa tukang si hehe), Hehe sedih kalau ingat ini, padahal rumahku (kami) sekarang sudah bagus, tapi malah bapakku tidak menikmati, hehe takdir si, mau bagaimana lagi, dan lagi waktu itu anaknya udah kuliah semua tapi belum lulus semua, pas wisuda, udah nggak ada, nyeseknya, hehe
Kembali ke cerita, lilikku dan temannya sudah datang sekitar jam 7.30 di rumahku, sudah siap2 maka langsung meluncur ke lokasi, terus ada makan, istirahat, ngopi, ngudud, dan lain2, hehe singkat saja semua beres sekitar jam 3, memang Cuma sedikit itu, dan makam bapakku pun sudah selesai dibuat pandeknya. 
Lalu apa yang perlu dijadikan pelajaran, ? yups, bersyukur. Saat ku tanya berapa upah mereka itu ? sekarang berkisar 80 rb untuk yang masang dan 70 untuk kenet nya. Oi2, bahkan ngelesku dua kali pertemuan sudah melebihi upah mereka, kerjaku cuma duduk, mengajari apa yang sebenarnya ku tahu, seringkali dapat cemilan bahkan sering juga di bawakan makan, di ruangan yang nyaman, kadang di AC, sehari bahkan aku bisa ngeles lebih dari dua kali, waktunya sekali pertemuan hanya maksimal banget 1,5 jam, sedangkan mereka dari jam 7.30 – 15.00 berapa jam itu, meski kepotong istirahat, kerja mereka kepanasan, berat coy bawa semen, batu, dan lain, belum lagi resiko terkilir dan lain sebagainya, ya begitulah ilmu memang meninggikan derajat, bahkan saat masih di dunia. Bukan berarti aku merendahkan mereka dengan mengatakan mereka di bawahku, tidak perlu begitu untuk bersyukur, tapi lihatlah, aku sangat beruntung bisa punya kesempatan sekolah yang bahkan seringnya tidak serius dan malesan.
Apakah mereka tidak bersyukur ?, oh sangat tidak mungkin kalau mereka ini tidak bersyukur.  Jiika kau tahu, saat kerja, saat istirahat, saat ngobrol bareng mereka itu sangat seru dan sangat menyenangkan, hehe rasanya itu hidup banget. Kaya ada gunanya kita hidup, hehe mereka bahkan lebih bahagia dibanding orang yang kerja kantoran (menurutku pribadi, kau beda, boleh kok, hehe), tidak tertekan dengan banyak hal, paling dari ekonomi keluarga, hehe tapi biasanya keluarganya biasa saja dan tenang2 saja hehe. Selan itu yang paling membingungkan bagiku adalah nggak pernah ada yang sakit, mksudnya ya, pas makan itu ya, biasanya cuci tangan seadanya, ini tadi malah dikali, hehe terus makan kadang pake sendok, kadang tangan aja, nah ke –steril-an baik dari makanan yang mungkin terpapar bahan2 bangunan, maupun tangan yang entah menyentuh apa saja itu sepertinya tidak steril, tapi mereka sehat2 saja, dan pas makan itu rasanya lezat dan nikmat sekali, hehe emang makanan paling enak adalah makanan yang kita makan setelah lelah bekerja. Nah menurutku itu (nggak sakit) karena mereka bersyukur, kan yang bersyukur akan ditambah nikmatnya sama Alloh, hehe  nah selain itu mereka juga berkeringat, racunnya paling juga pada keluar, jadi karena itu mereka nggak sakit.
Sebenarnya,  jika mau melihat sekeliling itu maka pasti kita akan bersyukur banyak2, banyak hal yang sudah Alloh kasih ke kita dan tidak Alloh kasihkan pada orang lain, lagi2 bukan karena orang lain itu lebih rendah atau lebih buruk dari kita, sama sekali bukan, tapi agar kita itu mau bersyukur dan memberi.
Lagi2, kebahagiaan memang bukan di ukur dari materi, tapi memang materi itu bisa membuat bahagia.
Karena mencari materi itu tidak semudah metik daun, maka bersyukurlah yang sudah hidup berkecukupan,  bantulah yang belum, dengan cara apa saja, misal mempekerjakan mereka dan baik2 pada mereka, atau dengan membantu anak – anak mereka sekolah, agar kehidupan di masa depan lebih baik, apakah selalu yang sekolah bisa ke arah yang lebih baik, belum tentu, tapi peluangnya lebih besar dibanding tidak bersekolah hehe. Jangan lupa, sehebat apapun dirimu, seberapapun kayanya dirimu, sepintar apa pun kamu, setampan, secantik apapun kamu itu, saat mati kamu tidak bisa mandi sendiri, wudhu sendiri, berpakaian sendiri, nggotong sendiri, dan juga ngubur sendiri. Kalau kau masih tidak mau bersosialisasi cobalah sekali saja ikut membantu membuat liang kuburan, suwer itu super berat, aku sudah nyoba, nggak gampang. Mereka mungkin di beri sedikit upah jerih payah, tapi ya, aku yakin itu lebih karena rasa bermasyarakat dan bersosial, hehe gue kapok deh bikin kuburan, yang lain saja, hehe 
Maka lihatlah sekelilingmu, baik2 pada mereka, dan bersyukurlah. Kamu sebenarnya tidak sendiri,  kamu memilih untuk sendiri, buka sedikit hatimu, lebarkan sabarmu, kau akan diterima dimanapun dan oleh siapapun, kau manusia, aku juga, mereka juga, hehe kita terikat dan memang kita saling membutuhkan,
Lagi2 lihatlah sekelilingmu, baik2 pada mereka, dan bersyukurlah.

Kebumen, 31 Januari 2019

Senin, 28 Januari 2019

Hinata


Hmm,
Aku beberapa waktu ini selo banget, jadi sering nulis, hehe karena memang aku nganggur dirumah, maksudnya memang nggak ada kerjaan gitu, palingan ya urusan rumah tangga biasa, nyuci, nyapu, gitu2, atau nganter ibuku pergi kemana gitu, hmm, benar2 membosankan
btw kemarin (bukan kemarin banget si) aku ternyata menemukan kisah masa lalu, hehe aku pernah nulis buku harian bro, kelas 3 smp, haha sebenarnya itu buku harian mamasku, tapi karena dia putus cinta, haha akhirnya tidak digunakan lagi, karena aku membacanya maka aku imitasi perilaku masku, ku teruskan untuk menulis kisahku di buku yang sama.
Aku mulai menulis januari 2011, ya di era itu aku menyukai seseorang, dalam artian aku ingin dia sepenuhnya hanya jadi miliku, seperti itu cinta kali ya, berharap hanya dia satu2’y dan dia untukku seorang. Sebut saja dia Hinata. Meski dulu aku naif sekali, padahal dia yang aku sukai juga suka padaku tapi aku malah punya hubungan dengan seseorang lain dengan sebutan kakak – adik, hehe sepertinya aku memang tidak peka dan malah menyakiti keduanya, hehe maafkan aku, aku dulu benar2 tidak sengaja dan tidak tahu. Membaca buku itu membuatku jijik, hehe suwer, gue alay banget, jibang (jijik banget), tapi mau bagaimanapun itu tulisanku.
Kisah dengan dia tertulis rapi disana, nggak rapi juga si, hehe tulisanku acak2an. Mulai dari bagaimana kita dekat, mengucapkan (menuliskan) * **** *** pertama kali, lagu ciptaannya yang aku nggak dikasih tahu bentuk sempurnanya, lagu2 yang ku buat untuknya, saat mendebarkan waktu akan ujian, saat ternyata pengumuman kelulusan kita nggak jadi sampingan kayak harapan kita, semua ada dibuku bersampul merah itu, lucu sekali hehe. Alasanku bisa main gitar juga karenanya, hehe jujur saja aku tidak mau kalah darinya, gue kan cowok, gengsi dong kalah dari cewek yang disukainya, akhirnya kelas 3 SMP aku belajar gitar, walaupun aku sama sekali nggak bisa mengalahkannya bahkan sampai lulus.
Padahal kita udah saling suka sejak kelas 3 sem 2 (aku tidak tau juga si, dia sudah menyukaiku sejak kapan), tapi karena kita akan ujian, maka kita bersepakat untuk tidak berpacaran, hehe padahal kalau di pikir – pikir sekarang, itu nggak akan berpengaruh pada hasilnya. Menjadi penyemangat ya, aku juga tidak tahu, mungkin dia lebih bisa menguasai dirinya sehingga bisa lulus dengan nilai yang super keren, hehe sedangkan aku yang tak menguasai diriku malah jatuh terpuruk, hehe alhamdulillah masih bisa naik panggung. Akhirnya kita lulus ya, dan lagi kau ternyata melanjutkan ke sekolah elite, hmm, dengan nilainya memang wajar si, tapi apa dia tidak tau betapa aku berharap kita satu sekolah lagi, hehe dari kejadian itu terciptalah lagu perpisahan, lirikanya alay si, tapi ku akui itu dari lubuk hatiku, lagu terbaik yang kuciptakan.
Setelah lulus kita masih berhubungan, dan akhirnya kita resmi pacaran setelah bertemu disana, hehe pacar pertama, ciye, itu juga tertulis di buku itu dengan bahasa alaynya hehe yups, diariku berakhir, loh kenapa berakhir, aku juga tidak tahu, mungkin karena dia sudah jadi milikku, maka kini dia lah diariku, hehe momen romantis antara kita kayanya nggak ada, hehe aku si yang tidak bisa membawa suasana, aku tidak berpengalaman, aku juga tidak tahu sebenarnya pacaran itu harus ngapain aja, apalagi kita LDR. Malah pernah mau ke penjualan buku, kemarinnya aku kesana masih buka, eh pas ngajak dia besoknya malah tutup, kampret tuh penjual, hehe kan malah jadi memalukan. Aku nggak pernah jalan2 jg, parah banget aku, aku cuma bisa ke rumahnya, entah kenapa kita bisa saling suka, kepribadian kita benar2 nggak cocok kalau menurut logikaku sekarang, aku bukanlah tipe pembuka pembicaraan, apalagi dia, kalem sekalem2nya, dan memang begitu, kita lebih sering diam kalau ketemuan, apalagi kalau ada temen2, kita kaya bukan siapa2. Tapi ada satu kejadian yang paling aku ingat yang membuat aku sangat menyukainya, aku ingat waktu itu malam jumat (karena waktu itu yasinan hehe), dia bertanya padaku lewat SMS, apa hal yang ku sukai darinya, aku jawab donk karena dia bla bla bla, lalu aku tanya balik, apa yg dia sukai dariku, lalu dia jawab, mungkin kamu bla bla bla, tapi aku tidak menyukaimu karena kamu bla bla bla, tapi aku menyukaimu apa adanya, karena itu kamu (kalau nggak salah begitu, hehe). Pesannya ku simpan, tapi hpku hilang sayangnya, hehe. Aku berbunga2 dong, hehe sejak itu aku sangat menyukainya waktu itu. Selain itu, kita pernah juga kan ya foto bareng berdua, kayanya cuma sekali itu kita foto berdua, dan file nya kebetulan masih ada, karena dulu ku simpan di tempat khusus, jadi tak hilang hehe lucu banget, senyumku dipaksakan banget, dia masih cantik, hehe hari apa ya, aku lupa tapi aku pake baju pramuka dan dia pakai baju putih.
Lalu LDRan kita berjalan tanpa ada kejadian yang lain sampai akhirnya kita putus karena alasan yang ku buat, iya, tak boleh pacaran sama agama, aku yang memutuskannya, aku kerumahnya waktu itu dan mengatakannya, hehe jahat sekali, kita putus baik2, aku tidak menyesali kejadian ini, menurutku dengan begitu kita tak terlalu jauh saling menyukai sehingga saat putus nanti aku masih berteman baik denganmu, kan ada yang setelah putus itu terus hilang dan malah benci, aku tidak ingin seperti itu. Egois si, karena itu pemikiranku sendiri tanpa peduli perasaannya. Btw setelah putus itu aku tidak bisa membuat lagu lagi sampai sekarang, mungkin karena inspirasiku hilang.
Dan akhirnya kita pun tetap menjadi teman baik sampai sekarang. Bagaimana perasaannya ? berubah kah ? sama kah ? aku mungkin tahu, tapi aku tidak ingin menduga terlalu jauh. Bagaimana perasaanku sekarang ?
Wakaranai, jangan memberi harapan atau janji yang belum tentu bisa dikabulkan atau ditepati.
Biarkan tetap begitu saja, setidaknya untuk setahun lagi aku masih akan menunggu untuk bersiap, semoga dia juga siap2. Mungkin bukan aku juga, tapi kalau dia siap , siapapun yang datang pasti juga bersiap, dia bisa bahagia. Walau bagaimanapun, dia adalah salah satu bagian spesial dalam cerita kehidupanku, semoga dia bahagia. senyum kamu lebih bagus 

Kebumen, 28 Januari 2019

Image result for hinata kecil

hari yang membara


Hari yang membara

Apakah yang membuat kita ragu untuk berbeda dengan yang lain
Kau memiliki kebebasan untuk hidup dengan caramu sendiri
Memilih adalah hal yang penting, jangan serahkan pada orang lain
Jika tak berbuat , maka waktu  tidak akan  membiarkanmu memilih

Mengejar mimpi itu terkadang bisa membuatmu kesakitan
Harus maju di jalan penuh halangan dan rintangan
Jika sejak awal kita sudah menyerah
Lalu tak ada gunanya lagi untuk berjuang

Kau harus melakukan hal yang kau inginkan dengan tanganmu sediri
Jangan mau menjadi sama karena ada yang lain
Lebih baik melangkah dengan impian masing – masing
Dan raihlah masa depan dengan bersinarnya mimpi – mimpi

Jika terus mengikuti langkah seseorang mungkin kita akan terluka
Langkah tiap orang berbeda, mimpi nya pun tak sama
Kau berhak atas langkah dan mimpimu sendiri
Di hari yang membara kuatkan tekad dan semangat dalam hati

Kebumen, 28 Januari 2019



Sabtu, 26 Januari 2019

Ketakutan


Hmm,
Hal yang menakutkan bagi sebagian orang lain mungkin tidak menakutkan bagi sebagian yang lain, selama aku hidup mungkin aku juga sudah banyak mengalami ketakutan, meski terlewati begitu saja hehe.
Definisi dan hal yang membuat takut juga banyak hal, misalnya aku dulu sangat takut dengan ayahku, hehe mungkin karena dulu ayahku memang tegas  mendidik anak2nya, lalu saat kita mulai besar itu semua menjadi biasa saja, ternyata ayahku sangat demokratis, jadi ketakutan itu berubah menjadi rasa hormat, rasa segan.
Aku juga dulu takut malam dan gelap, pengalaman  yang paling menakutkan terkait ini mungkin adalah saat aku harus pulang ke rumah. Hehe pulang ke rumah kok takut ya, iya lah, dari SMP N 1 Rowokele sampai ke rumahku sekitar 1,5 km jauhnya, melewati jalan, ada dua alternatif jalan, satu lewat pinggiran sungai, satu lewat jalan utama. Lalu apa yang menakutkan ? iyaps, aku harus pulang jam setengah 3 pagi dan sendiri. Jadi ceritanya sekolahku (SMA) menjadi wakil kebumen (atau jateng, aku lupa) untuk tampil tari di TMII jakarta, aku sebagai perwakilan OSIS ikut serta, sebenarnya aku juga tidak tahu apa hubungannya, hehe tapi karena gratis dan bisa ke jakarta ya oke saja, hehe aku berdua sama pak ketua OSIS waktu itu, yang lain guru dan karyawan semua satu bis. Oke deh pulang pergi aman, tampilnya juga mantap, waktunya pulang, sampai di SMA sekitar jam 2. Karena sebelumnya sudah berhubungan dengan adiku untuk menjemput maka ku telfon adiku, oh tidak diangkat, akhirnya aku mbonceng salah satu guru sampai di SMP, aku telfon lagi adiku, masih tidak diangkat, maka aku hanya punya dua pilihan, balik ke SMA dan numpang tidur disana, atau pulang sendiri lewat jalan yang sepi malam - malam, hehe aku pilih pulang apapun yang terjadi.  Berbekal HP butut, nekat aja, ku pilih jalan lewat pinggiran sungai, relatif lebih banyak rumah, meski aku harus melewati jembatan super menakutkan, dari pada aku lewat jalan utama yang katanya ada xxxxxx nya di salah satu tikungan, hehe alhamdulillah selamat, aku takut, tapi aku nekat, adiku malah tidur dengan pulas, kan kampret banget.  Ketakutan itu berubah jadi keberanian, aku pernah melewati hal menakutkan dan aku baik saja, aku jadi lebih berani pada malam dan gelap. Kalau sekarang apa berani pulang malam sendirian ? tergantung alasannya, hehe
Lalu ketakutan yang lain adalah sidang skripsi, hehe nggak, sidang skripsiku relatif lancar jaya, karena sudah ku siapkan matang, pertanyaan pembantaian sudah ku siapkan jawabannya sebaik mungkin, jadi relatif aman, hehe nah yang menakutkan adalah revisiannya. Ini ketakutan yang hakiki kali ya. Dosen penguji utamaku bisa dibilang dewanya pendidikan fisika, sampai aku sidang hanya ada satu yang dosen penguji utamanya beliau. Dan revisinya satu bulan coy, hehe. Giliranku revisi, pokoknya beliau hebat banget, dan aku kerdil banget, kaya aku nggak ada gunanya, mungkin ini dalam ilmu psikologi dinamakan mendiskriminasi. Aku jadi merasa lemah dan bukan siapa. Pernah sekali waktu, beliau lewat dan aku melihatnya, padahal beliau tidak, tubuhku bereaksi, keringat dingin, merinding,  perutku mual2 (persis saat melihat kondisi adikku saat kecelakaan dulu), dan rasanya aku takut sekali, kau pikir ini hanya fiktif ? ini real terjadi, hehe. Tapi karena kau nekat, ku terabas saja, aku harus ketemu dosen pengujiku bagaimanapun hasilnya, dan akhirnya sebulan kemudian aku acc revisi penguji utama, baru penguji utama, hehe tapi yang lain alhamdulillah relatif lebih mudah. Bahkan bertemu dengan penguji lebih banyak dari bimbingan dengan dosen pembimbing.  Sepertinya karena aku malas bimbingan si jd agak dikit hehe bukan malas juga si, aku lebih suka setor langsung banyak, aku bab 1 – 3 selesaikan baru revisi, lalu buat soal, instrumen dll sudah jadi baru bimbingan, lalu ambil data aku tida bertemu sebulan, ku analisis, ku selesaikan bab 4 – 6 baru bimbingan lagi. Kalau sedikit menurutku tidak efektif saja, terlalu detail bikin pusing, haha pemalas memang.  Oke lanjut......
Sekarang, umurku sudah 23 tahun, aku sudah wisuda, pekerjaan yang layak juga insyaAlloh sebentar lagi aku dapatkan,  sekarang yang aku takutkan adalah masa depan, hehe kenapa tidak dari dulu ya, misal saat lulus SD, lulus SMP, SMA, kan setelah itu harus berada di tempat baru, masa depan baru, ternyata kamu (aku) baik2 saja. Tidak menakutkan juga kan ya. Ini berbeda sekali. Semua yang ku takutkan dulu selalu bisa ku lewati karena nekat dan itu urusan tentang diriku sendiri. Tidak melibatkan orang lain untuk menentukan aku harus melakukan apa. Iya, aku takut dengan masa depan, lebih tepatnya aku takut berkeluarga, hehe bukan berarti aku jadi anti berkeluarga. Maksudnya itu aku takut tidak bisa menjadi suami yang baik, aku takut menjadi ayah yang buruk, aku juga takut, jika nanti aku punya istri dan keluarga, apakah semenyenangkan seperti dulu (sekarang) yang masih berkelana sendiri. Memikirkannya membuat aku takut. Karena aku tidak bisa berkeluarga sendiri kan, haha. Belum lagi kecocokan dengan ibuku, dan aku dengan mertuaku dan lagi kecocokan ibuku dan ibunya, hehe. Aku jadi berharap dijodokan saja, biar setidaknya ibuku dengan ibunya cocok, ibuku dan mertuaku juga cocok, aku mah insyaAlloh cocok dengan pilihan ibuku, hehe tinggal dia nya aja cocok nggak sama aku, hehe, tapi ibuku bilang, kau yang akan punya istri, cari sendiri. Pernah juga si di kasih nomor cewek sama ibuku, hehe tapi di foto WA nya nggak pake kerudung jadi langsung gue cancel, hehe Y sudahlah, besok lah nyari. Abstrak dan lucu sekali.
Aku hanya tinggal menunggu adikku lulus, tahun ini insyaAlloh, lalu setelah dia kerja, berarti aku bisa lega dan baru bisa cari pendamping hidup, kalau di kira2 maka umurku adalah 25 tahun saat adikku sudah mapan bekerja katakanlah. Itu rencanaku, lagi2 rencana Alloh memang yang terbaik.
Hmm, pada dasarnya kalau dipikir2 takut atau ketakutan itu terjadi karena pengalaman dan pengetahuan kita belum sampai atau belum menjangkau. Misal gelap, karena kita tidak bisa melihat dengan jelas, maka kita tidak bisa menjangkau apa yang ada dibalik gelap itu, maka kita akan takut, tapi kalau sudah pernah melewatinya akan ada pengalaman dan rasa takut berkurang bahkan hilang.  Kayaknya berkeluarga juga sama saja. Karena tak bisa coba2, maka cara terbaik adalah menyiapkan segalanya, baik harta, agama, maupun kepribadiannya. Kalau tidak serius ya kenapa harus dia kan ya, karena nikah itu bukan hanya besok saja, tapi selamanya bahkan bisa ke surga, bukan kaleng – kaleng, hehe. mengapa takut Alloh nggak masuk sini, atau takut mati juga, hehe itu tida perlu di jelaskan, sudah jelas dan sudah pasti
Hehe aku memang takut, tapi aku bisa bersiap.  Siapapun kamu, aku akan bersiap menjadi imam sholat yang baik buatmu. Jangan menungguku, bersiap saja buatmu. Suatu saat aku akan menjemputmu.

Kebumen, 26 januari 2019








Sabtu, 19 Januari 2019

hari perpisahan

hari perpisahan

hari perpisahan akan tiba tanpa kita sadari
aku mengingat bagaimana aku baru saja menginjakan kaki
di tempat kini ku berdiri
dimana aku melewati hari - hari

jalanan yang ku lewati entah sudah berapa kali
pemandangan saat pagi maupun sore yang terus berganti
musim hujan dan musim panas terlewat beriringan
dan kini cerita itu menjelma menjadi kenangan

senja yang mulai tenggelam di ufuk barat
aku bertanya dimana nanti aku akan melihatnya
waktu kita selama ini,
selalu di isi dengan kebahagiaan dan tangisan

waktunya perpisahan
ku ucapkan terima kasih dari lubuk hati
ku ucapkan maaf tiada terkira atas segala salah dan lupa
dalam lagu perpisahan ini

apakah suatu saat nanti kita masih akan bertemu
tertawa mengingat kejahilan kita dulu
duduk bersama dan saling tertawa
menghangatkan suasana dengan berbagi cerita

Rabu, 16 Januari 2019

Si Anak Beruntung


Hmm,
Mungkin jika anak mamak ada 5 aku akan menjadi salah satunya, hehe  (novel Bang Tere) dan aku akan mendapat julukan si Anak Beruntung. Aku baru sadar hari ini, nggak juga si, maksudnya aku sadar kalau aku beruntung, tapi aku sadar kalau aku sangat benar2 beruntung.  Hari ini aku pemberkasan CPNS kn ya, lagi2 CPNS ya, hehe CPNS banyak hikmahnya. Aku belajar banyak hal. Kembali ke cerita. Hari ini aku pemberkasan,  semua berkas yang dibutuhkan sudah ku siapkan, berkas yang diurus harus di kabupaten juga sudah lengkap, hehe merepotkan sekali. Oke deh, aku sudah di jogja, pemberkasan di boyolali, karena jadwalku jam 13.00 maka aku nglaju dari jogja. Jam 7.30 aku sudah siap dan cusss berangkat.
Di tengah jalan,  adikku menelpon, ada apakah gerangan ? oh ternyata STNK motor yang ku bawa ketinggalan, hehe aku sudah sampai klaten, ya sudah lah lanjut aja, semoga tidak apa2, hehe dan alhamdulillah selamat sampai tujuan dan tanpa tilangan, hahaha
Sampai sana aku menunggu waktuku pemberkasan, hal yang pertama membuatku merasa sangat beruntung tentu saja karena aku di terima dan sampai tahap pemberkasan. Lalu setelah ku cek dan survey, ternyata banyak (mayoritas) yang sudah mengajar bertahun – tahun. Sudah mengabdi di sekolah dan alhamdulillah di terima tahun ini. Aku jujur saja sedikit menyesal, hmm, bukan menyesal juga, lebih tepatnya sedih. Aku yang baru saja lulus ini, bocah bau kencur, langsung dikasih hadiah Alloh diterima sebagai CPNS, ibaratnya tanpa perjuangan.  Ada yang mengabdi dan sampai sekarang masih mengabdi ternyata masih belum diangkat menjadi CPNS, aku tidak bisa membayangkan jika aku nanti bertemu di sekolahku yang baru, aku yang baru masuk dikenalkan, dan berstatus CPNS, lalu bertemu dengan guru yang sudah lama mengabdi, dan belum diangkat, aku tanpa pengalaman dan kontribusi digaji dengan layak dan penuh tunjangan, beliau dengan pengalaman dan kontribusi digaji “hanya” sesuai dengan UMR, entah mengapa aku merasa sangat berdosa sekaligus merasa sangat beruntung.
Iya, semua orang juga tahu, rejeki sudah di atur oleh Alloh dan kita hanya perlu berikhtiar mencari, tapi ya,hehe namanya juga manusia, punya rasa dalam hati dan punya logika dalam pikiran. Aku ternyata sangat beruntung, saat ku cari info yang diterima dari sekolahku, ternyata aku salah satu yang termuda.
Alhamdulillah temanku juga 2 lolos saat diumumkan kemarin. Selamat pemberkasan.
Anak yang beruntung, ibuku bahkan menangis saat diumumkan kalau aku lolos. Aku tidak paham, apakah menjadi CPNS itu capaian yang sangat keren ? hari ini aku sadar, benar2 sadar, aku sangat beruntung,
Apalagi setelah ini, dipertemukan Alloh denganmu, hehe betapa beruntungnya

Yogya, 16 Januari 2019

Sabtu, 12 Januari 2019

Rencana Alloh memang terbaik (2)


Hmm, 
Kali ini rencana saat baru lulus SMA, kenapa aku memilih pendidikan fisika ?
Yups, salah satunya karena aku suka fisika, hehe tapi karena bapakku lebih suka aku jadi guru maka aku ambil yang pendidikan.   Selain karena aku suka, hehe aku melihat peluang di SMA ku, guru fisika ku akan pensiun sekitar 5-6 tahun lagi saat aku masuk kuliah. Dengan pertimbangan aku kuliah 4 tahun, maka 2 tahun sebelum pensiun, mungkin sekolah akan mencari guru baru untuk disiapkan menggantikan beliau, atau jika beruntung, maka aku bisa ikut PPG sebelum mengajar. Ya itu rencanaku, logika berpikirku saat itu, rencana yang ku buat adalah yang terbaik. Maka aku pun sholat istikhoroh, dan berdoa untuk memantapkan pilihanku. Oke deh, dikasih petunjuk dan hatiku mantap, SBMPTN aku daftar dan di terima.
Rencana Alloh memang yang terbaik, masuk ke pendidikan fisika mengajarkan banyak hal dan memberikan banyak pengalaman. Alhamdulillah bisa ikut haska, alhamdulillah bisa 2x ke LN, alhamdulillah dan alhamdulillah.
Singkat cerita tiba di akhir sem 8 awal (januari 2018), aku masih mengikuti IMR (ikatan mahasiswa Rowokele) kaya alumni yang balik ke sekolah gitu buat sosialisasi PT dan latihan soal SBMPTN, sebagai sesepuh, hehe kerjaanku cuma melihat dan mengikuti kegiatannya saja dan sesekali membantu. Lalu ada seorang guru yang matur begini “sudah semester berapa ben ?” “sem 8 bu”, “Bu T  (guru fisika) sedang sakit, mbok kamu gantiin beliau sebentar ngajar disini”, “saya masih belum lulus bu”, “y nggak p2 kn,” (kurang lebih percakapannya begitu). Dalam hati seneng dong, ini berarti saya masih ada peluang. Seandainya sem 8 hanya mikiri skripsi saja, tawaran itu pasti ku tindak lanjuti (nggak tahu juga beneran atau bercandaan itu tawaran hhe), sayangnya aku masih harus ngambil satu makul di sem 8 jadi, tawaran itu berlalu begitu saja. Oke deh, aku akan kembali pas penelitian, hehe.
Benar saja, penelitianku mengambil sample salah satunya siswa dari SMA N 1 Rowokele. Malang tak dapat di tolak, untung tak dapat di raih, saat masuk SMA untuk penelitian (bulan awal mei), oi2 sudah ada guru fisika baru pemirsa, dan mba (guru barunya cewe) ini, adalah senpai 2013 UNY juga yang dulu ikut HIMA, jd agak kenal2 wajahnya. Sambil tertawa, sambil mengasihani diri sendiri, haha rasakan.
Nggak mungkin lagi kan ya, aku masuk ke situ, gurunya udah lengkap dan malah ini ada yang baru. Oke deh pupus sudah. Sayonara daisuki na hito. Setelah itu ya sudah aku hanya fokus menyelesaikan kuliah dan seperti cerita – cerita yang sebelumnya aku wisuda november. Tapi kau tahu, aku yudisium agustus, dan september pembukaan CPNS, aku belum punya ijazah dan transkrip nilai. Rencana keren Alloh berjalan kan ya, UNY dengan kebaikan hati Rektor dan jajarannya bersedia menerbitkan ijazah, transkrip dan akta mengajar asli dalam bentuk soft file yang dikirim ke email masing2, kami hanya perlu buat surat permintaan saja, terima kasih bapak Rektor dan jajaran. Selanjutnya di pemprov jateng, hanya mengupload saja dokumen pemberkasan tanpa perlu dikirim hard file lewat pos (ada instansi lain yang dikirm). Terima kasih pemprov  jateng. Maka urut2an waktunya jadi pas sekali. Juli sidang, agustus yudisium, september pembukaan pendaftaran CPNS, oktober tes SKD, november wisuda, desember tes SKB, akhir tahun dapat ponakan baru sekaligus pengumuman lolos CPNS, januari pemberkasan dan insyaAlloh februari SK turun (katanya).
Ketika Alloh tidak meng-acc rencana kita, maka rencana Alloh berjalan lebih baik dari rencana kita. Kayanya harus merantau lagi. Oh iya, hikmahnya, mba td yang  jadi guru baru itu juga daftar dan tidak diterima, coba kalau dia yang diterima, dia yang akan merantau. Kalau dia nggak diterima dan aku sudah di SMA, maka mungkin dia belum punya kerjaan. Yups, rencana Alloh selalu keren dan terbaik, lagi2 tugasku, tugas kita hanyalah berusaha dan berdoa, berusaha lagi dan berdoa lagi. Setelah itu pasrah saja. Nggak sesuai dengan apa yang direncanakan, santai saja, cari jalan lain, berusaha lagi, berdoa lagi. Maka yang percaya dengan Alloh yang maha segalanya, tidak akan membiarkan hambaNya tak dikasih apapun  ketika berusaha dan berdoa.
Sip, tetap semangat gaes
Yoshaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Kebumen, 12 Januari 2019