Hmm,
Menurutku, kebahagiaan tidak
diukur dari seberapa besar materi yang
dipunya, tapi tidak dipungkiri bahwa mendapatkan materi itu bisa membuat
bahagia. Apalagi bagi yang sudah berkeluarga, materi bukan lagi keinginan tapi
kebutuhan. Memang rizki itu sudah ditetapkan sama Alloh dan kita cuma disuruh ikhtiar buat
mencarinya, tapi karena perbedaan tiap orang dalam menerima rizki itu maka bisa
menjadi hikmah bagi orang lain yang melihatnya.
Hari ini aku mandek, bukan
berhenti, tapi membuat kaya tanggul (bahasa jawanya pandek) untuk
mengantisipasi longsor, kebetulan makam bapak itu agak longsor pas hujan besar waktu
itu, jadi kalau tidak di tanggulangi sekarang, maka bisa2 tali pocong bapakku
keluar, hehe maka di pandek. Sebenarnya tidak terlalu besar, mungkin panjangnya hanya 4
meter dan tingginya 2 meter, maka ibuku mempekerjakan 2 orang, satu itu lilikku
dan satu lagi temennya lilikku, dan aku sendiri sebagai pembantu hehe perusuh
kali ya, tugasku sangat mudah, membawa lendut (kapur putih lembut) dari rumahku
ke makam, pakai motor hehe berat coy, hehe setengah karung yang agak gede saja
aku tidak kuat membawanya, mungkin setara atau lebih besar masa jenisnya
dibandingkan semen. Jadi aku mengisinya setengah kurang dulu, lalu ku naikkan
motor, lalu ku isi sampai penuh, lalu ku bawa ke makam, lalu turunnya ku
standarkan motor, lalu ku dorong deh tuh karung. Karena ini dirumahku maka aku duluan yang
membawa lendut ke makam, ku mulai sekitar jam 6 biar nggak panas. Oke deh, 1 2
3 karung, dst
Sampai lilikku datang aku masih
membawa lendut, sudah lumayan buat sekali adukan, hehe meskipun secara
akademis, keluargaku lumayan maju, tapi aku dan saudaraku juga diajarkan hidup
rekasa, rumah kami yang mbangun ya kami sendiri (dengan bantuan beberapa tukang
si hehe), Hehe sedih kalau ingat ini, padahal rumahku (kami) sekarang sudah bagus,
tapi malah bapakku tidak menikmati, hehe takdir si, mau bagaimana lagi, dan
lagi waktu itu anaknya udah kuliah semua tapi belum lulus semua, pas wisuda, udah
nggak ada, nyeseknya, hehe
Kembali ke cerita, lilikku dan
temannya sudah datang sekitar jam 7.30 di rumahku, sudah siap2 maka langsung
meluncur ke lokasi, terus ada makan, istirahat, ngopi, ngudud, dan lain2, hehe
singkat saja semua beres sekitar jam 3, memang Cuma sedikit itu, dan makam bapakku
pun sudah selesai dibuat pandeknya.
Lalu apa yang perlu dijadikan
pelajaran, ? yups, bersyukur. Saat ku tanya berapa upah mereka itu ? sekarang
berkisar 80 rb untuk yang masang dan 70 untuk kenet nya. Oi2, bahkan ngelesku
dua kali pertemuan sudah melebihi upah mereka, kerjaku cuma duduk, mengajari
apa yang sebenarnya ku tahu, seringkali dapat cemilan bahkan sering juga di
bawakan makan, di ruangan yang nyaman, kadang di AC, sehari bahkan aku bisa
ngeles lebih dari dua kali, waktunya sekali pertemuan hanya maksimal banget 1,5
jam, sedangkan mereka dari jam 7.30 – 15.00 berapa jam itu, meski kepotong
istirahat, kerja mereka kepanasan, berat coy bawa semen, batu, dan lain, belum
lagi resiko terkilir dan lain sebagainya, ya begitulah ilmu memang meninggikan
derajat, bahkan saat masih di dunia. Bukan berarti aku merendahkan mereka
dengan mengatakan mereka di bawahku, tidak perlu begitu untuk bersyukur, tapi lihatlah,
aku sangat beruntung bisa punya kesempatan sekolah yang bahkan seringnya tidak
serius dan malesan.
Apakah mereka tidak bersyukur ?,
oh sangat tidak mungkin kalau mereka ini tidak bersyukur. Jiika kau tahu, saat kerja, saat istirahat,
saat ngobrol bareng mereka itu sangat seru dan sangat menyenangkan, hehe
rasanya itu hidup banget. Kaya ada gunanya kita hidup, hehe mereka bahkan lebih
bahagia dibanding orang yang kerja kantoran (menurutku pribadi, kau beda, boleh
kok, hehe), tidak tertekan dengan banyak hal, paling dari ekonomi keluarga,
hehe tapi biasanya keluarganya biasa saja dan tenang2 saja hehe. Selan itu yang
paling membingungkan bagiku adalah nggak pernah ada yang sakit, mksudnya ya,
pas makan itu ya, biasanya cuci tangan seadanya, ini tadi malah dikali, hehe terus
makan kadang pake sendok, kadang tangan aja, nah ke –steril-an baik dari
makanan yang mungkin terpapar bahan2 bangunan, maupun tangan yang entah
menyentuh apa saja itu sepertinya tidak steril, tapi mereka sehat2 saja, dan
pas makan itu rasanya lezat dan nikmat sekali, hehe emang makanan paling enak
adalah makanan yang kita makan setelah lelah bekerja. Nah menurutku itu (nggak
sakit) karena mereka bersyukur, kan yang bersyukur akan ditambah nikmatnya sama
Alloh, hehe nah selain itu mereka juga
berkeringat, racunnya paling juga pada keluar, jadi karena itu mereka nggak
sakit.
Sebenarnya, jika mau melihat sekeliling itu maka pasti
kita akan bersyukur banyak2, banyak hal yang sudah Alloh kasih ke kita dan
tidak Alloh kasihkan pada orang lain, lagi2 bukan karena orang lain itu lebih
rendah atau lebih buruk dari kita, sama sekali bukan, tapi agar kita itu mau
bersyukur dan memberi.
Lagi2, kebahagiaan memang bukan
di ukur dari materi, tapi memang materi itu bisa membuat bahagia.
Karena mencari materi itu tidak
semudah metik daun, maka bersyukurlah yang sudah hidup berkecukupan, bantulah yang belum, dengan cara apa saja,
misal mempekerjakan mereka dan baik2 pada mereka, atau dengan membantu anak –
anak mereka sekolah, agar kehidupan di masa depan lebih baik, apakah selalu
yang sekolah bisa ke arah yang lebih baik, belum tentu, tapi peluangnya lebih
besar dibanding tidak bersekolah hehe. Jangan lupa, sehebat apapun dirimu, seberapapun
kayanya dirimu, sepintar apa pun kamu, setampan, secantik apapun kamu itu, saat
mati kamu tidak bisa mandi sendiri, wudhu sendiri, berpakaian sendiri, nggotong
sendiri, dan juga ngubur sendiri. Kalau kau masih tidak mau bersosialisasi
cobalah sekali saja ikut membantu membuat liang kuburan, suwer itu super berat,
aku sudah nyoba, nggak gampang. Mereka mungkin di beri sedikit upah jerih
payah, tapi ya, aku yakin itu lebih karena rasa bermasyarakat dan bersosial, hehe
gue kapok deh bikin kuburan, yang lain saja, hehe
Maka lihatlah sekelilingmu,
baik2 pada mereka, dan bersyukurlah. Kamu sebenarnya tidak sendiri, kamu memilih untuk sendiri, buka sedikit
hatimu, lebarkan sabarmu, kau akan diterima dimanapun dan oleh siapapun, kau
manusia, aku juga, mereka juga, hehe kita terikat dan memang kita saling membutuhkan,
Lagi2 lihatlah sekelilingmu,
baik2 pada mereka, dan bersyukurlah.
Kebumen, 31 Januari 2019
