Hmm,
Dari judulnya sepertinya buruk
sekali ya, hehe nggak kok, lebih baik dibaca sampai akhir dulu. Anak dan orang
tua seringkali memang tidak sependapat, tapi mari kita bahas sesuatu yang pasti ada di benak
orang tua maupun anak, yaitu keinginan.
Keinginan, atau harapan, atau
apapun orang menyebutnya adalah sesuatu kejadian atau kondisi yang kita
semogakan untuk terjadi. Sebenarnya apa kah yang diinginkan orang tua untuk
anaknya ? apakah yang diharapkan anak dari orang tuanya ? apa yang orang tua
harapkan pasti yang terbaik untuk anaknya, tidak berbeda juga, apa yang anak
harapkan pasti yang terbaik orang tuanya, tapi mengapa seringkali berbeda
bahkan kadang hubungan orang tua dan anak menjadi renggang “hanya” karena
berbeda keinginan yang sebenarnya sama2 baik, lalu apakah yang terbaik ?
Sebenarnya, apakah yang di
inginkan orang tua dari anaknya ?
Orang tua ingin agar anaknya
berhasil dan sukses dari segi materi, apakah orang tua menginginkan “bagian”
harta anak2’y ?
sepertinya tidak, jika begitu
maka ketika anaknya tidak berhasil dan hidup pas2an maka status anak akan
lepas, tapi sebaliknya orang tua akan sedih melihat anak2nya, bahkan
menyisihkan materi yang dia miliki untuk anaknya, ternyata keinginan orang tua
bukan semata hanya menginginkan anaknya hidup bergelimangan harta, tidak, bukan
seperti itu. Bukan juga agar tidak membebani orang tua lagi, tapi lebih dari
itu agar anaknya bisa hidup mandiri, hidup berkecukupan, bisa hidup bahagia.
Orang tua ingin agar anaknya
menjadi orang yang pandai, pintar, orang
yang bersekolah tinggi, apakah orang tua menginginkan kebanggaan dari
sekitarnya atas prestasi anaknya ?
lagi2 tidak, jika anaknya
berprestasi saja sudah menyenangkan baginya, dan memang jika anaknya bisa
menjadi kebanggaannya di sekitarnya juga menyenangkan, tapi jika anaknya tidak
berprestasi apakah orang tua akan membencinya, tidak, bukan seperti itu. Orang tua
hanya ingin anaknya berprestasi, menimba ilmu dengan baik, dan yang sebenarnya
yang orang tua inginkan adalah anaknya menjadi orang yang “benar”. Iya, orang
yang “benar” tidak hanya bisa di dapatkan dari sekolah atau prestasi, tapi
orang “benar” yang berilmu akan lebih dihargai. Pun jika sekolah tidak terlalu
tinggi, selama anaknya menjadi orang “benar”, itu sudah lebih dari cukup. “benar”
yang di maksud sesederhana mengikuti norma yang ada di masyarakat, dan
bermanfaat bagi sekitarnya. Kan ada tuh orang pintar yang nggak benar,
pintarnya buat korupsi misalnya.
Orang tua ingin anaknya
mendapatkan jodoh yang baik, jodoh yang cantik, yang ganteng, yang punya
pekerjaan tetap, apakah orang tua sedang memaksakan kehendak atas anaknya ?
menginginkan menantu yang cocok dengannya ?
Tentu saja tidak, jika kamu perempuan, maka jodohmu nanti akan
menjadi pengganti bapakmu, bukan menggantikan tempatnya, tapi menggantikan
perannya untuk menjagamu, memastikan kebutuhanmu tercukupi, memastikan kau
makan dengan baik, memastikan kau tidak kedinginan, memastikan kau hidup dengan
layak, lebih dari itu, bisa hidup dengan bahagia. Jika kamu laki2, maka jodohmu
nanti akan menggantikan ibumu, lagi2 bukan tempatnya, tapi perannya untuk
menjaga urusan rumahmu, memastikan segala kebutuhanmu tersedia, memastikan
makananmu enak, memastikan kehangatan saat kau pulang kerja, memastikan kau
hidup dengan harmonis, lebih dari itu, bisa hidup dengan bahagia. Orang tua
bukan memaksakan kehendak, tidak, bukan seperti itu. Orang tua hanya ingin kau
menikah dengan orang yang tepat, bukan tidak dengan masalah, tapi bisa saling
mengerti apapun yang terjadi. Karena menikah adalah urusan menurunkan ego
masing2 dan menyatukannya. Iya, hanya seperti itu.
Sebenarnya, apakah yang di
harapkan anak dari orang tuanya ?
Anak ingin agar orang tuanya
tidak membatasi apa yang ingin dia kerjakan, pekerjaan yang sukses tidak hanya
ngantor dan jadi pegawai kan ?
Seringkali orang tua
mengotak2an pekerjaan yang sebaiknya diambil oleh anaknya, jadi pegawai
kantoran, jadi guru, dosen, atau jadi anggota DPR. Padahal zaman sudah berubah,
pekerjaan yang dianggap layak dan sukses sudah tidak sama lagi dengan dulu saat
orang tua baru bekerja. Bisnis online, design, editing, youtuber, bahkan gamer
sekarang menjadi primadona, dan penghasilannya bisa berkali – kali lipat, lebih
dari itu anak lebih suka mengerjakan apa yang ingin dia kerjakan, dengan
pilihannya sendiri dan tentu dia tahu akan resikonya. Jika itu pilihannya
sendiri, dia akan menanggungnya. Anak yang beranjak dewasa bukan lagi anak
kecil.
Anak ingin agar orang tuanya diam
dan bahagia di rumah saja saat anaknya sudah kerja, tidak perlu lagi kerja,
sudah ada anaknya yg sudah menghidupi kn ?
Anak ingin orang tuanya tidak
lagi memikirkan soal hidupnya (materi) lagi saat anak sudah bekerja. Anak hanya ingin
orang tua tenang di rumah, kiriman akan datang teratur tiap bulan, tunggu dia
pulang saat hari raya, beserta keluarga kecilnya, lalu menimang cucu, dan hidup
bahagia dan berkecukupan di hari tua. Tidak perlu memikirkan lelah kerja anaknya,
atau bagaimana kesehatannya, itu sudah menjadi urusan anaknya. Yang penting
orang tua sehat dan tenang di rumah, itu saja.
Anak ingin orang tuanya tidak
banyak bertanya tentang dia yang akan jadi jodohnya, bagaimana nanti anak akan
menjalani keluarganya dan bagaimana pernikahannya nanti, semua sudah
direncanakan, “aku” yang akan menjalaninya kan ?
Anak hanya ingin semua yang
dilakukan tidak merepotkan orang tuanya, tidak berarti tida melibatkan orang
tua sama seklai, istilahnya terima beres begitu. Tidak perlu repot begini dan
begitu, biar anak nya yang mengurus dan merencanakannya, tunggu dan santai
saja, baik siapa jodohnya, baik bagaimana nikahnya, pun bagaimana nanti
berkeluarga, maksudnya begitu.
Itu hanya dari asumsiku,
pendapatku sendiri, meski aku belum menikah, meski aku belum jadi orang tua,
hanya melihat dari sekitarku, dan itu kesimpulan yang ku dapatkan. Sebenarnya kalau
di pikir – pikir baik keinginan anak maupun keinginan orang tua sama2 baik,
untuk kebahagiaan masing – masing kan ya, orang tua buat anak, anak buat orang
tua, yang seringkali salah adalah kurangnya komunikasi, orang tua menganggap
dia sudah lebih berpengalaman, sudah banyak makan asam garam sehingga
pendapatnya seharusnya di terima, anak menganggap orang tuanya mengekang,
terlalu jadul, dan kurang bisa menghargai keinginan anaknya. Jika dikomunikasikan
dengan baik, hal – hal macam kerenggangan antara anak dan orang tua dan hal
buruk lain kemungkinan bisa diatasi, maka sebagai anak, ceritakanlah apa yang
kau inginkan, dengarkanlah nasihat orang tua, hargailah mereka yang sudah
merawatmu dari pas masih ngompolan, sampai kau beranjak dewasa, ku pikir kalau
mereka diajak cerita, mereka kan senang, lebih dari itu, ku yakin mereka akan
mengerti, hanya perlu bicara dan berkomunikasi.
Karena sebenarnya harapan2
baik, apapun yang terjadi, apapun yang dipilih, bagaimanapun jalannya, akan
selalu menjadi baik. Lagi2 anak tentu ingin yang terbaik untuk orang tuanya, orang
tua juga ingin yang terbaik untuk anaknya, tidak ada yang salah sama sekali.
Anak akan tetap menjadi anak,
dan orang tua akan tetap menjadi orang tua, meski nanti punya anak, meski nanti
akan jadi orang tua.
Kebumen, 11 Februari 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar