Sabtu, 26 Januari 2019

Ketakutan


Hmm,
Hal yang menakutkan bagi sebagian orang lain mungkin tidak menakutkan bagi sebagian yang lain, selama aku hidup mungkin aku juga sudah banyak mengalami ketakutan, meski terlewati begitu saja hehe.
Definisi dan hal yang membuat takut juga banyak hal, misalnya aku dulu sangat takut dengan ayahku, hehe mungkin karena dulu ayahku memang tegas  mendidik anak2nya, lalu saat kita mulai besar itu semua menjadi biasa saja, ternyata ayahku sangat demokratis, jadi ketakutan itu berubah menjadi rasa hormat, rasa segan.
Aku juga dulu takut malam dan gelap, pengalaman  yang paling menakutkan terkait ini mungkin adalah saat aku harus pulang ke rumah. Hehe pulang ke rumah kok takut ya, iya lah, dari SMP N 1 Rowokele sampai ke rumahku sekitar 1,5 km jauhnya, melewati jalan, ada dua alternatif jalan, satu lewat pinggiran sungai, satu lewat jalan utama. Lalu apa yang menakutkan ? iyaps, aku harus pulang jam setengah 3 pagi dan sendiri. Jadi ceritanya sekolahku (SMA) menjadi wakil kebumen (atau jateng, aku lupa) untuk tampil tari di TMII jakarta, aku sebagai perwakilan OSIS ikut serta, sebenarnya aku juga tidak tahu apa hubungannya, hehe tapi karena gratis dan bisa ke jakarta ya oke saja, hehe aku berdua sama pak ketua OSIS waktu itu, yang lain guru dan karyawan semua satu bis. Oke deh pulang pergi aman, tampilnya juga mantap, waktunya pulang, sampai di SMA sekitar jam 2. Karena sebelumnya sudah berhubungan dengan adiku untuk menjemput maka ku telfon adiku, oh tidak diangkat, akhirnya aku mbonceng salah satu guru sampai di SMP, aku telfon lagi adiku, masih tidak diangkat, maka aku hanya punya dua pilihan, balik ke SMA dan numpang tidur disana, atau pulang sendiri lewat jalan yang sepi malam - malam, hehe aku pilih pulang apapun yang terjadi.  Berbekal HP butut, nekat aja, ku pilih jalan lewat pinggiran sungai, relatif lebih banyak rumah, meski aku harus melewati jembatan super menakutkan, dari pada aku lewat jalan utama yang katanya ada xxxxxx nya di salah satu tikungan, hehe alhamdulillah selamat, aku takut, tapi aku nekat, adiku malah tidur dengan pulas, kan kampret banget.  Ketakutan itu berubah jadi keberanian, aku pernah melewati hal menakutkan dan aku baik saja, aku jadi lebih berani pada malam dan gelap. Kalau sekarang apa berani pulang malam sendirian ? tergantung alasannya, hehe
Lalu ketakutan yang lain adalah sidang skripsi, hehe nggak, sidang skripsiku relatif lancar jaya, karena sudah ku siapkan matang, pertanyaan pembantaian sudah ku siapkan jawabannya sebaik mungkin, jadi relatif aman, hehe nah yang menakutkan adalah revisiannya. Ini ketakutan yang hakiki kali ya. Dosen penguji utamaku bisa dibilang dewanya pendidikan fisika, sampai aku sidang hanya ada satu yang dosen penguji utamanya beliau. Dan revisinya satu bulan coy, hehe. Giliranku revisi, pokoknya beliau hebat banget, dan aku kerdil banget, kaya aku nggak ada gunanya, mungkin ini dalam ilmu psikologi dinamakan mendiskriminasi. Aku jadi merasa lemah dan bukan siapa. Pernah sekali waktu, beliau lewat dan aku melihatnya, padahal beliau tidak, tubuhku bereaksi, keringat dingin, merinding,  perutku mual2 (persis saat melihat kondisi adikku saat kecelakaan dulu), dan rasanya aku takut sekali, kau pikir ini hanya fiktif ? ini real terjadi, hehe. Tapi karena kau nekat, ku terabas saja, aku harus ketemu dosen pengujiku bagaimanapun hasilnya, dan akhirnya sebulan kemudian aku acc revisi penguji utama, baru penguji utama, hehe tapi yang lain alhamdulillah relatif lebih mudah. Bahkan bertemu dengan penguji lebih banyak dari bimbingan dengan dosen pembimbing.  Sepertinya karena aku malas bimbingan si jd agak dikit hehe bukan malas juga si, aku lebih suka setor langsung banyak, aku bab 1 – 3 selesaikan baru revisi, lalu buat soal, instrumen dll sudah jadi baru bimbingan, lalu ambil data aku tida bertemu sebulan, ku analisis, ku selesaikan bab 4 – 6 baru bimbingan lagi. Kalau sedikit menurutku tidak efektif saja, terlalu detail bikin pusing, haha pemalas memang.  Oke lanjut......
Sekarang, umurku sudah 23 tahun, aku sudah wisuda, pekerjaan yang layak juga insyaAlloh sebentar lagi aku dapatkan,  sekarang yang aku takutkan adalah masa depan, hehe kenapa tidak dari dulu ya, misal saat lulus SD, lulus SMP, SMA, kan setelah itu harus berada di tempat baru, masa depan baru, ternyata kamu (aku) baik2 saja. Tidak menakutkan juga kan ya. Ini berbeda sekali. Semua yang ku takutkan dulu selalu bisa ku lewati karena nekat dan itu urusan tentang diriku sendiri. Tidak melibatkan orang lain untuk menentukan aku harus melakukan apa. Iya, aku takut dengan masa depan, lebih tepatnya aku takut berkeluarga, hehe bukan berarti aku jadi anti berkeluarga. Maksudnya itu aku takut tidak bisa menjadi suami yang baik, aku takut menjadi ayah yang buruk, aku juga takut, jika nanti aku punya istri dan keluarga, apakah semenyenangkan seperti dulu (sekarang) yang masih berkelana sendiri. Memikirkannya membuat aku takut. Karena aku tidak bisa berkeluarga sendiri kan, haha. Belum lagi kecocokan dengan ibuku, dan aku dengan mertuaku dan lagi kecocokan ibuku dan ibunya, hehe. Aku jadi berharap dijodokan saja, biar setidaknya ibuku dengan ibunya cocok, ibuku dan mertuaku juga cocok, aku mah insyaAlloh cocok dengan pilihan ibuku, hehe tinggal dia nya aja cocok nggak sama aku, hehe, tapi ibuku bilang, kau yang akan punya istri, cari sendiri. Pernah juga si di kasih nomor cewek sama ibuku, hehe tapi di foto WA nya nggak pake kerudung jadi langsung gue cancel, hehe Y sudahlah, besok lah nyari. Abstrak dan lucu sekali.
Aku hanya tinggal menunggu adikku lulus, tahun ini insyaAlloh, lalu setelah dia kerja, berarti aku bisa lega dan baru bisa cari pendamping hidup, kalau di kira2 maka umurku adalah 25 tahun saat adikku sudah mapan bekerja katakanlah. Itu rencanaku, lagi2 rencana Alloh memang yang terbaik.
Hmm, pada dasarnya kalau dipikir2 takut atau ketakutan itu terjadi karena pengalaman dan pengetahuan kita belum sampai atau belum menjangkau. Misal gelap, karena kita tidak bisa melihat dengan jelas, maka kita tidak bisa menjangkau apa yang ada dibalik gelap itu, maka kita akan takut, tapi kalau sudah pernah melewatinya akan ada pengalaman dan rasa takut berkurang bahkan hilang.  Kayaknya berkeluarga juga sama saja. Karena tak bisa coba2, maka cara terbaik adalah menyiapkan segalanya, baik harta, agama, maupun kepribadiannya. Kalau tidak serius ya kenapa harus dia kan ya, karena nikah itu bukan hanya besok saja, tapi selamanya bahkan bisa ke surga, bukan kaleng – kaleng, hehe. mengapa takut Alloh nggak masuk sini, atau takut mati juga, hehe itu tida perlu di jelaskan, sudah jelas dan sudah pasti
Hehe aku memang takut, tapi aku bisa bersiap.  Siapapun kamu, aku akan bersiap menjadi imam sholat yang baik buatmu. Jangan menungguku, bersiap saja buatmu. Suatu saat aku akan menjemputmu.

Kebumen, 26 januari 2019








Tidak ada komentar:

Posting Komentar