Hmm,
Hal yang menakutkan bagi sebagian orang lain mungkin
tidak menakutkan bagi sebagian yang lain, selama aku hidup mungkin aku juga
sudah banyak mengalami ketakutan, meski terlewati begitu saja hehe.
Definisi dan hal yang membuat takut juga banyak hal,
misalnya aku dulu sangat takut dengan ayahku, hehe mungkin karena dulu ayahku
memang tegas mendidik anak2nya, lalu
saat kita mulai besar itu semua menjadi biasa saja, ternyata ayahku sangat
demokratis, jadi ketakutan itu berubah menjadi rasa hormat, rasa segan.
Aku juga dulu takut malam dan gelap, pengalaman yang paling menakutkan terkait ini mungkin
adalah saat aku harus pulang ke rumah. Hehe pulang ke rumah kok takut ya, iya
lah, dari SMP N 1 Rowokele sampai ke rumahku sekitar 1,5 km jauhnya, melewati
jalan, ada dua alternatif jalan, satu lewat pinggiran sungai, satu lewat jalan
utama. Lalu apa yang menakutkan ? iyaps, aku harus pulang jam setengah 3 pagi
dan sendiri. Jadi ceritanya sekolahku (SMA) menjadi wakil kebumen (atau jateng,
aku lupa) untuk tampil tari di TMII jakarta, aku sebagai perwakilan OSIS ikut
serta, sebenarnya aku juga tidak tahu apa hubungannya, hehe tapi karena gratis
dan bisa ke jakarta ya oke saja, hehe aku berdua sama pak ketua OSIS waktu itu,
yang lain guru dan karyawan semua satu bis. Oke deh pulang pergi aman,
tampilnya juga mantap, waktunya pulang, sampai di SMA sekitar jam 2. Karena
sebelumnya sudah berhubungan dengan adiku untuk menjemput maka ku telfon adiku,
oh tidak diangkat, akhirnya aku mbonceng salah satu guru sampai di SMP, aku
telfon lagi adiku, masih tidak diangkat, maka aku hanya punya dua pilihan,
balik ke SMA dan numpang tidur disana, atau pulang sendiri lewat jalan yang
sepi malam - malam, hehe aku pilih pulang apapun yang terjadi. Berbekal HP butut, nekat aja, ku pilih jalan
lewat pinggiran sungai, relatif lebih banyak rumah, meski aku harus melewati
jembatan super menakutkan, dari pada aku lewat jalan utama yang katanya ada
xxxxxx nya di salah satu tikungan, hehe alhamdulillah selamat, aku takut, tapi
aku nekat, adiku malah tidur dengan pulas, kan kampret banget. Ketakutan itu berubah jadi keberanian, aku
pernah melewati hal menakutkan dan aku baik saja, aku jadi lebih berani pada
malam dan gelap. Kalau sekarang apa berani pulang malam sendirian ? tergantung
alasannya, hehe
Lalu ketakutan yang lain adalah sidang skripsi, hehe
nggak, sidang skripsiku relatif lancar jaya, karena sudah ku siapkan matang,
pertanyaan pembantaian sudah ku siapkan jawabannya sebaik mungkin, jadi relatif
aman, hehe nah yang menakutkan adalah revisiannya. Ini ketakutan yang hakiki
kali ya. Dosen penguji utamaku bisa dibilang dewanya pendidikan fisika, sampai
aku sidang hanya ada satu yang dosen penguji utamanya beliau. Dan revisinya
satu bulan coy, hehe. Giliranku revisi, pokoknya beliau hebat banget, dan aku
kerdil banget, kaya aku nggak ada gunanya, mungkin ini dalam ilmu psikologi dinamakan
mendiskriminasi. Aku jadi merasa lemah dan bukan siapa. Pernah sekali waktu,
beliau lewat dan aku melihatnya, padahal beliau tidak, tubuhku bereaksi,
keringat dingin, merinding, perutku
mual2 (persis saat melihat kondisi adikku saat kecelakaan dulu), dan rasanya
aku takut sekali, kau pikir ini hanya fiktif ? ini real terjadi, hehe. Tapi karena
kau nekat, ku terabas saja, aku harus ketemu dosen pengujiku bagaimanapun
hasilnya, dan akhirnya sebulan kemudian aku acc revisi penguji utama, baru
penguji utama, hehe tapi yang lain alhamdulillah relatif lebih mudah. Bahkan bertemu
dengan penguji lebih banyak dari bimbingan dengan dosen pembimbing. Sepertinya karena aku malas bimbingan si jd
agak dikit hehe bukan malas juga si, aku lebih suka setor langsung banyak, aku
bab 1 – 3 selesaikan baru revisi, lalu buat soal, instrumen dll sudah jadi baru
bimbingan, lalu ambil data aku tida bertemu sebulan, ku analisis, ku selesaikan
bab 4 – 6 baru bimbingan lagi. Kalau sedikit menurutku tidak efektif saja,
terlalu detail bikin pusing, haha pemalas memang. Oke lanjut......
Sekarang, umurku sudah 23 tahun, aku sudah wisuda,
pekerjaan yang layak juga insyaAlloh sebentar lagi aku dapatkan, sekarang yang aku takutkan adalah masa depan,
hehe kenapa tidak dari dulu ya, misal saat lulus SD, lulus SMP, SMA, kan
setelah itu harus berada di tempat baru, masa depan baru, ternyata kamu (aku)
baik2 saja. Tidak menakutkan juga kan ya. Ini berbeda sekali. Semua yang ku
takutkan dulu selalu bisa ku lewati karena nekat dan itu urusan tentang diriku
sendiri. Tidak melibatkan orang lain untuk menentukan aku harus melakukan apa. Iya,
aku takut dengan masa depan, lebih tepatnya aku takut berkeluarga, hehe bukan
berarti aku jadi anti berkeluarga. Maksudnya itu aku takut tidak bisa menjadi
suami yang baik, aku takut menjadi ayah yang buruk, aku juga takut, jika nanti
aku punya istri dan keluarga, apakah semenyenangkan seperti dulu (sekarang)
yang masih berkelana sendiri. Memikirkannya membuat aku takut. Karena aku tidak
bisa berkeluarga sendiri kan, haha. Belum lagi kecocokan dengan ibuku, dan aku
dengan mertuaku dan lagi kecocokan ibuku dan ibunya, hehe. Aku jadi berharap
dijodokan saja, biar setidaknya ibuku dengan ibunya cocok, ibuku dan mertuaku
juga cocok, aku mah insyaAlloh cocok dengan pilihan ibuku, hehe tinggal dia nya
aja cocok nggak sama aku, hehe, tapi ibuku bilang, kau yang akan punya istri,
cari sendiri. Pernah juga si di kasih nomor cewek sama ibuku, hehe tapi di foto WA nya nggak pake kerudung jadi langsung gue cancel, hehe Y sudahlah, besok lah nyari. Abstrak dan lucu sekali.
Aku hanya tinggal menunggu adikku lulus, tahun ini
insyaAlloh, lalu setelah dia kerja, berarti aku bisa lega dan baru bisa cari
pendamping hidup, kalau di kira2 maka umurku adalah 25 tahun saat adikku sudah
mapan bekerja katakanlah. Itu rencanaku, lagi2 rencana Alloh memang yang
terbaik.
Hmm, pada dasarnya kalau dipikir2 takut atau ketakutan
itu terjadi karena pengalaman dan pengetahuan kita belum sampai atau belum
menjangkau. Misal gelap, karena kita tidak bisa melihat dengan jelas, maka kita
tidak bisa menjangkau apa yang ada dibalik gelap itu, maka kita akan takut,
tapi kalau sudah pernah melewatinya akan ada pengalaman dan rasa takut
berkurang bahkan hilang. Kayaknya berkeluarga
juga sama saja. Karena tak bisa coba2, maka cara terbaik adalah menyiapkan
segalanya, baik harta, agama, maupun kepribadiannya. Kalau tidak serius ya
kenapa harus dia kan ya, karena nikah itu bukan hanya besok saja, tapi
selamanya bahkan bisa ke surga, bukan kaleng – kaleng, hehe. mengapa takut Alloh nggak masuk sini, atau takut mati juga, hehe itu tida perlu di jelaskan, sudah jelas dan sudah pasti .
Hehe aku memang takut, tapi aku bisa bersiap. Siapapun kamu, aku akan bersiap menjadi imam
sholat yang baik buatmu. Jangan menungguku, bersiap saja buatmu . Suatu saat aku akan menjemputmu.
Kebumen, 26 januari 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar