Hmm,
Entah sejak kapan aku merasa
hidupku selalu menjadi pelengkap. Ibarat membuat sebuah pondasi, aku itu batu
kecil pengganjal batu2 besar agar tidak goyahi. Aku bukan siapa2. Apa aku
merasa kecil, tidak berdaya ? tidak juga. aku merasa lebih baik begitu, tidak
buruk juga.
Sebagai hasilnya, aku bisa
melakukan banyak hal. Karena aku selalu mengisi bagian orang2 yang tidak ada
orangnya. Dimana saja, mungkin awalnya di rebana, karena tidak ada yang mau
pegang keyboard bagian iringan saja,
memang yang pegang keyboard melodi itu mamasku, tapi aku tidak meminta
memegangnya, tapi karena tak ada yang mau, baiklah, akhirnya aku belajar.
Saat ngeband pas SMP, karena
temen2ku udah expert, akhirnya aku pegang bass yang gampang dipelajari, aku
jadi belajar. Di organisasi juga begitu, aku tidak pilih2, saat kuliah aku
daftar organisasi kan ya, aku pilih bidang A, pilihan ke 2 di B. Ternyata aku
diterima di C, hehe lucu banget ini, aku si tidak masalah, hehe kenapa tidak ?
Ketika teman2ku menjadi orang
hebat, aku menjadi orang biasa, aku iri ? tidak juga. aku keren dengan caraku
sendiri, Hehe. Mungkin sebab itu juga banyak yang suka curhat padaku, bahkan
sampe sekarang, rata2 mereka cuma pengin cerita, nggak butuh solusi kebanyakan,
karena aku orang biasa maka sepertinya aku jadi nyaman buat orang cerita, y
kadang kasih saran, tapi aku percaya mereka lebih tau apa yang seharusnya dia
lakukan. Aku sekedar pendengar yang baik. Tidak kurang tidak lebih.
Menjadi pelengkap membuatku
belajar menghilangkan keakuan, belajar melihat dari banyak sisi. Dan membuatku
lebih tenang. Karena dalam situasi segawat apapun, sebenarnya selalu ada celah untuk
bisa keluar atau setidaknya membuat keadaan lebih baik, yang penting tenang.
Tapi menjadi pelengkap itu
tidak enak juga, jadi tidak punya kelebihan atau kemampuan yang benar2 ahli. Karena
belajar dari keadaan terdesak, selesai keadaan terdesak itu, selesai juga
belajarnya, begitulah, tidak ahli dalam banyak hal meskipun bisa melakukannya.
Selain itu karena gampang
menerima, jadi sering di bully, iya lah, kalau aku di luar negeri mungkin aku
sudah bunuh diri, hehe karena lingkungan disana itu keras dan tidak beragama. Untung
aku hidup di Indonsesia, seringnya aku dibully karena memang aku kecil, buat
bahan bercandaan, lucu ya, iya kali, memang lucu, aku juga kadang ketawa, hehe
tapi lama2 nggak lucu lagi, basi, kadang saya jadi sombong, pengin lihat
seberapa hebat kalian itu yang lihat aku “kecil”, tapi lalu aku sadar, mungkin
mereka Cuma ingin bercanda, jadi ya biarlah, kalau lagi mood ya aku ikut
ketawa, kalau lagi nggak mood y senyum aja, kalau udah males banget y senyum
aja, terus pergi kemana gitu, biasanya si aku perpus, mereka males kesana, jadi
aman, hehe
Sebenarnya, tidak ada yang
salah, mau jadi jadi besar atau menjadi biasa saja, yang penting hargai orang
lain saja, sehebat apapun dirimu, kamu hanya sebutir debu, tidak kurang tidak
lebih.....
Pekalongan, 16 April 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar