Selasa, 16 April 2019

pelengkap


Hmm,
Entah sejak kapan aku merasa hidupku selalu menjadi pelengkap. Ibarat membuat sebuah pondasi, aku itu batu kecil pengganjal batu2 besar agar tidak goyahi. Aku bukan siapa2. Apa aku merasa kecil, tidak berdaya ? tidak juga. aku merasa lebih baik begitu, tidak buruk juga.
Sebagai hasilnya, aku bisa melakukan banyak hal. Karena aku selalu mengisi bagian orang2 yang tidak ada orangnya. Dimana saja, mungkin awalnya di rebana, karena tidak ada yang mau pegang keyboard bagian iringan saja,  memang yang pegang keyboard melodi itu mamasku, tapi aku tidak meminta memegangnya, tapi karena tak ada yang mau, baiklah, akhirnya aku belajar.
Saat ngeband pas SMP, karena temen2ku udah expert, akhirnya aku pegang bass yang gampang dipelajari, aku jadi belajar. Di organisasi juga begitu, aku tidak pilih2, saat kuliah aku daftar organisasi kan ya, aku pilih bidang A, pilihan ke 2 di B. Ternyata aku diterima di C, hehe lucu banget ini, aku si tidak masalah, hehe kenapa tidak ?
Ketika teman2ku menjadi orang hebat, aku menjadi orang biasa, aku iri ? tidak juga. aku keren dengan caraku sendiri, Hehe. Mungkin sebab itu juga banyak yang suka curhat padaku, bahkan sampe sekarang, rata2 mereka cuma pengin cerita, nggak butuh solusi kebanyakan, karena aku orang biasa maka sepertinya aku jadi nyaman buat orang cerita, y kadang kasih saran, tapi aku percaya mereka lebih tau apa yang seharusnya dia lakukan. Aku sekedar pendengar yang baik. Tidak kurang tidak lebih.
Menjadi pelengkap membuatku belajar menghilangkan keakuan, belajar melihat dari banyak sisi. Dan membuatku lebih tenang. Karena dalam situasi segawat apapun, sebenarnya selalu ada celah untuk bisa keluar atau setidaknya membuat keadaan lebih baik, yang penting tenang.
Tapi menjadi pelengkap itu tidak enak juga, jadi tidak punya kelebihan atau kemampuan yang benar2 ahli. Karena belajar dari keadaan terdesak, selesai keadaan terdesak itu, selesai juga belajarnya, begitulah, tidak ahli dalam banyak hal meskipun bisa melakukannya.
Selain itu karena gampang menerima, jadi sering di bully, iya lah, kalau aku di luar negeri mungkin aku sudah bunuh diri, hehe karena lingkungan disana itu keras dan tidak beragama. Untung aku hidup di Indonsesia, seringnya aku dibully karena memang aku kecil, buat bahan bercandaan, lucu ya, iya kali, memang lucu, aku juga kadang ketawa, hehe tapi lama2 nggak lucu lagi, basi, kadang saya jadi sombong, pengin lihat seberapa hebat kalian itu yang lihat aku “kecil”, tapi lalu aku sadar, mungkin mereka Cuma ingin bercanda, jadi ya biarlah, kalau lagi mood ya aku ikut ketawa, kalau lagi nggak mood y senyum aja, kalau udah males banget y senyum aja, terus pergi kemana gitu, biasanya si aku perpus, mereka males kesana, jadi aman, hehe
Sebenarnya, tidak ada yang salah, mau jadi jadi besar atau menjadi biasa saja, yang penting hargai orang lain saja, sehebat apapun dirimu, kamu hanya sebutir debu, tidak kurang tidak lebih.....


Pekalongan, 16 April 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar