Rabu, 05 Juni 2019

kapan nikah ?


hmm,
kapan nikah ?
kadang pertanyaan itu menjadi momok yang berbahaya bagi sebagian orang di umuranku, bahkan sampai didiskusikan bagaimana cara menjawabnya, dari yang bercanda sampai dengan yang benar2 serius. Aku bingung juga, apa yang salah dengan pertanyaan itu ? maksudku, tinggal dijawab saja kan ?
kapan nikah ? kalau belum siap, y udah bilang aja mungkin bukan tahun ini, sama dengan pertanyaan kapan2 yang lain, kita perlu ingat bahwa jaman mereka beda dengan jaman kita bro, rata – rata  mereka nikah diumur yang muda, mungkin seumuranmu yang sekarang, atau bahkan lebih muda, jadi ku pikir wajar saja jika mereka menanyakan hal itu di umurmu yang sekarang. Mereka hanya peduli, atau kadang hanya sekedar ingin tahu, menurutku tidak ada niatan untuk merendahkanmu dengan pertanyaan itu, jadi biasa saja. Beda ceritanya kalau mungkin umurmu sudah 30an keatas, mungkin wajar kalau tidak perlu menanyakan kapan lagi. Semua orang punya alasan, dan tidak perlu bertanya alasan selama itu tidak ada hubungannya denganmu.
Pun mungkin juga, jangan2 orang bertanya kapan nikah itu sedang memastikan kamu masih punya slot kosong atau tidak, jangan2 kamu sedang di targetkan sebagai calon menantu yang ideal, mngkin saja kan ?
saya pribadi kadang bingung saja menanggapi kalau ada yang ilfil dengan pertanyaan kapan nikah, bukankah itu biasa saja, tidak spesial untuk dibingungkan atau bahkan diperdebatkan.
Yang lucu itu, saat pulang mudik kemarin, dirumah hanya ada mbah dan adikku, pertanyaan pertama kok bisa langsung, “kenapa calonnya nggak dibawa ?”, eh buset, sejak kapan aku sudah punya calon, mau ku jawab “apalah daya, calonku ditikung mobil avanza rentalan mbah”, hehe kayanya bercandanya mbahku nggak mudeng, y ku jawab “dereng enten calon mbah”, dan pertanyaan sudah ada calon belum kerap ku terima dari sekitarku, wajar si menurutku, aku sudah kerja, umurku sudah mencukupi, lalu apalagi ? , mungkin dipikiran mereka itu kaya gitu, mana ku tahu juga, hehe jawabanku ya biasa saja, masih belum ada calon, y udah mereka biasa saja, hehe sesekali mengenalkan seseorang, kayanya si dia belum nikah loh, aku hanya ber oooooooh ria, hehe sebenarnya aku hanya malas menjawab hal yang menurutku tidak menarik, itu saja hehe.
Hari ini apalagi, setelah sholat kan seperti biasa berkeliling ke rumah2 tetangga, dan suatu waktu aku sekeluarga besar (keluarga mbahku) berkunjung ke rumah pak guruku pas SD yang pernah ku ceritakan di bagian impian, ealah sampai disana setelah sungkem, aku ditanggap, hehe maksudnya mbah guru itu kaya memberi wejangan yang khusus buatku, menyebut namaku di depan keluarga besarku, hehe malu sekali saya, wkwk dan tentu saja yang diwejangin terkait dua hal, yang pertama adalah pekerjaan dan yang kedua udah pasti pernikahan. Y tentu saja aku mendengarkan dengan seksama, hehe dari mbah guru, tidak berani macem2 saya, kualat nanti. Hehe doakan saja mbah biar tidak kepeleset jalannya. Aku masih takut pada banyak hal terkait pernikahan, hehe jujur saja aku belum siap ke tahap lebih lanjut, tentu saja selagi bersiap. Aku akan jadi kepala keluarga kan, tentu saja aku ingin menjadi kepala keluarga yang baik dan memberi yang terbaik untuk keluargaku kelak, kalau aku di umur segini masih main2, ku pikir saat tiba waktunya, aku tidak bisa memberi yang terbaik, jangan2 malah rusak tuh istri dan anakku. Eh jadi jauh ceritanya, hehe
Y intinya, tiap orang beda2 si menyikapi pertanyaan kapan nikah, tapi menurutku tidak perlu mengotori hati dan pikiran untuk berburuk sangka dengan orang2 yang bertanya kapan nikah, cukup dijawab saja, beres kan, hehe
Oh iya, taqabalallohu minna wa minkum. Selamat hari raya idul fitri gaes

Kebumen, 5 Juni 2019 (1 Syawal 1440 H)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar