hmm,
Saat dewasa seperti ini aku merasa aku belum
terlalu berjuang, dibandingkan dengan orang2 disekitarku sepertinya banyak hal
bisa ku raih dengan relatif lebih mudah, atau setidaknya orang2 berkata karena
itu aku, maka aku pantas mendapatkannya.
Kalau ku ingat2 lagi, menurutku sendiri aku sudah
cukup berjuang saat aku kecil, mungkin orang2 disekitarku atau yang ku kenal
sejak kecil akan tahu bagaimana perjuanganku (dan keluarga) sampai hari ini,
karena mungkin kita berjuang bersama saat itu. Saat bercerita begini, aku
selalu sedih, mengenang masa kecil selalu jadi terkenang bapak, hehe y
begitulah, karena adiku selisih 1,5 tahun, aku banyak di asuh bapakku, mungkin
akan ku ceritakan masa bayiku yang baru ku dengar beberapa waktu ini dari
ibuku.
Aku lahir dengan baik, singkat cerita saat aku
masih umur beberapa bulan, ibuku mengandung lagi, karena kecelakaan, hehe
kayaknya KB nya nggak berhasil gitu, bahkan sampai bapakku dipukuli ibuku, hehe
nggak dipukuli, maksudnya marah sampai memukul, karena bercampur bingung kan
ya, ini anak 3, jaraknya deket2, sedangkan kita bukan orang berpunya, makane
ibuku bersikap begitu, padahal itu bukan salah bapakku kan y, kan udah pakai
KB, tapi y memang takdirnya begitu, hehe bapakku diam saja waktu itu katanya. Itulah
hebatnya bapakku. Akhirnya aku hanya disusui sekitar 9 bulan, entahlah ini
berpengaruh atau tidak, tapi daya tahan tubuhku sepertinya memang paling rendah
diantara saudara2ku, gampang masuk angin, hehe y aku cukup sering sakit ringan
ketika saudara2ku sehat2, dan ya begitu aku tidak tumbuh tinggi, sebenarya
tubuhku standar si, hanya yang lain lebih gede aja, wkwk alibi.
Karena melihat kondisi keluargaku yang
memprihatinkan, maka keluarga dari ibu datang, untuk apa ?, mereka meminta
mengasuhku, aku yakin niat mereka baik sekali, tapi keluargaku menolak karena
aku adalah anaknya. Tidak hanya keluarga ibuku, seorang guru di SD juga meminta
ku jadi anak angkatnya, guru itu baik, cukup mapan menurutku, beliau sudah
punya motor saat yang lain belum punya, permintaan itu pun di tolak. Saat aku
mulai sekolah, guru itu sering memboncengku berangkat sekolah, padahal kalau ku
pikir2 sekarang2 ini, beliau harusnya bisa lewat jalan lain yang lebih dekat
dan efisien, dibanding lewat depan rumahku, apakah hanya kebetulan, atau
sengaja ? aku tidak tahu, jahat sekali aku, sejak masuk SMP dan tidak pernah
bertemu, aku bahkan tidak pernah tahu bagaimana kabar beliau, dimana sekarang,
entahlah, aku tidak pernah tahu fakta tentang beliau sampai beberapa hari
kemarin. Beliau baik sekali, semoga niat baik dan kebaikannya selama ini padaku
di balaskan oleh Alloh.
Saat aku masih dalam buaian ini, ayahku mulai
bekerja sebagai penjaga SD, dan ibuku dengan bantuan seseorang mulai berjualan
jajan anak SD, bisa dibilang tanpa modal. Maksudnya, ibuku ngambil jajan di
orang itu, tanpa membayar, lalu besoknya pas sudah laku baru membayar sekalian
ngambil lagi, begitu seterusnya bahkan sampai aku besar. Saat aku mulai nalar,
aku dan saudara2ku tentu saja tidak menjadi anak yang durhaka, hehe nakal si
memang. Perjuanganku dimulai.
Aku masih ingat, kami pernah hidup tanpa listrik,
penerangannya menggunakan lampu teplok (dian) atau apa y namanya, pokoknya yang ada api ditutup
kaca lengkung itu. Kami tidur berlima satu tempat tidur, apa yang kami mainkan
sebelum tidur ? yaps, permainan siapa yang paling cepat tidur, walaupun aku
belum tidur, aku akan diam saja bahkan dengan gurauan ibuku “wah beni sudah
tidur” padahal pikiranku sadar, tapi karena aku tidak mau kalah, aku diam dan
entah sampai kapan tanpa sadar aku tertidur. Tidak ada kasur waktu itu, tapi
aku merasakannya sekarang, itu sangat hangat dan menyenangkan. Saat aku dan
saudaraku tumbuh besar, bapakku tidur di mbale,aku mbuntut, hehe jadilah kita
tidur berdua, mungkin sejak itu aku jadi dekat sekali dengan bapak, dekat itu
maksudnya secara emosional, aku tetap takut sama bapakku pas kecil, hehe.
Ketika listrik sudah terpasang di rumahku,
keluargaku terasa lebih baik, karena bisa berjualan es, kami beli freezer,
kayanya utang, hehe kayanya keluargaku disekitarku yang paling awal beli, jadi
belum banyak saingan. Dagangan es lumayan laris, baik di sekolah maupun di
rumah, akhirnya kami buka cabang, wkwk, karena rumahku dekat dg SD 2, ibuku
jualan di rumah, dan bapak jualan di SD 1 sekaligus jadi penjaga disana. Kami bersaudara
sekolah di SD 1 semua. Ekonomi kami cukup membaik, meski belum bisa dibilang
sudah stabil. Setidaknya, kami tidak makan mie instan 2 bungkus untuk berlima,
atau 2 telur di dadar lalu digoreng setipis mungkin agar bisa dibagi, hehe aku
dulu paling jago bikin telur dadar setipis mungkin. Bahkan kita bisa beli susu,
hehe (sedih banget nulis ini).
Alarmku bangun tidur adalah saat bapakku memasukan
es ke dalam termos, aku langsung bangun, dulu kadang sholat, kadang nggak jg,
lalu masku dan aku akan mengantar es gotongan ke seberang bukit pagi2 subuh,
jalan kaki, kadang nyeker, wkwk karena licin, pernah sekali aku pas ditanjakan
terpeleset dan terbanting keras, kalau tidak salah kakiku terkilir, aku lupa
waktu itu aku tetap berangkat sekolah atau tidak, yang jelas aku tidak jadi
mengantar es itu bareng masku.
Di sekolah, saat jam istirahat tiba, ketika yang
lain main2, aku harus melihat ke warung, ada bapakku atau tidak, jika ada, maka
itulah waktuku bermain, jika tidak, mungkin ada masku, jika tidak, maka berarti
aku yang harus jagain, saat masku lulus, tentu aku jadi lebih sering jaga, saat
pulang sekolah, bapakku beres2 dan mengunci pintu, aku dan saudara2ku membereskan
jajanan itu, lalu pulang duluan, karena bapakku akan mencuci piring, gelas, dan
lain2 yang aku tidak bisa membantu. Aku jadi tidak enak kadang2 pas sekarang aku
jd guru, teh dibuatkan, tinggal minum, selesai, terus ditinggal, hehe aku hanya
bisa membantu mengumpulkan gelas teman2 guru yang berserakan, agar mudah
diambil. Belum masalah ngangsu air, atau cari kayu bakar, entah sudah berapa
kali kaki terkilir, otot terkilir, nyolong nanas (nggak nyolong si, kan
daripada mubazir, hehe), makan degan (punya sendiri), oh ngomong2 soal degan,
ini pengalaman traumatis, aku jadi tidak berani manjat pohon kelapa, jadi
ceritanya aku pengin degan tuh, aku manjat tuh pohon kelapa, karena licin dan
kakiku agak terpeleset, akhirnya ku pegangan batang pohon kelapa dengan erat,
alhasil tanganku keslusuben (bahasa indo nya apa ya, tertusuk tapi nyungsep
tusukannya), lumayan banyak di tanganku, sakit sekali, nggak ada duanya,
disuntik nggak ada apa2nya. Sampe sekarang ku nggak mau, mending nyuruh orang
aja kalau naik pohon kelapa, hehe.
Masa kecil yang berat.
Ku pikir masa kecilku cukup keren bahkan saat di
bayangkan oleh diriku yang sekarang, maksudku ternyata aku yang pemalas ini
pernah melewati perjuangan seberat itu, hehe bahkan aku tak menyangka aku bisa
melewatinya, iya aku selalu ranking satu pas SD, masku jg, adiku nggak si, tapi
beberapa kali rangking satu juga, aku di banggakan karena aku pintar, aku bisa
melakukan banyak hal, aku sudah pergi ke tempat yang jauh (ke kebumen hehe
hanya juara satu kecamatan yang bisa membawaku ke kebumen), aku merasa bisa
diandalkan.
Apakah ada orang lain yang lebih berjuang dariku ?
tentu saja banyak, terlebih orang tuaku, ayah, hehe sedih lagi kan, entah
rencana Alloh seperti apa, aku juga tidak tahu, tapi aku sedih sekali, saudara2ku juga tentu saja, apalagi ibuku,
bahkan tidak kuat mengantar bapakku pas dikuburkan. Aku masih bertanya kenapa
harus waktu itu ? saat ekonomi kita sudah
membaik, saat aku sudah kuliah, saat adikku juga sudah kuliah, saat masku
sebentar lagi wisuda, saat aku sudah bisa membanggakanmu dg keluar negeri, saat
sebentar lagi, saat aku sebentar lagi berhasil, kenapa tidak sekarang saja,
saat masku sudah punya anak, itu berarti kau sudah punya cucu, saat sekarang
aku sudah jadi CPNS, saat adiku sebentar lagi wisuda, aku masih bertanya,
kenapa harus waktu itu ? dan ku belum menemukan jawabannya, aku percaya suatu
saat nanti akan terjawab, dan aku tahu itu terbaik, aku hanya butuh jawaban.
Saat sekarang aku sudah dewasa, aku kembali
melihat dan berpikir bahwa sebenarnya semua manusia, setiap orang harus
berjuang. Kupikir, dulu orang yang punya ilmu agama yang bagus, orangnya baik
hati, akan hidup relatif lebih mudah, maksudku lebih nyaman, tapi aku salah
besar, aku belajar, guruku yang baik hati tidak kurang suatu apa, ngerti agama,
bisa dan mengajarkan kitab padaku dan yang lain, disegani orang, tapi ternyata
anaknya sendiri yang jadi tempat mereka berjuang, suwer, anaknya pengin ku b****
saja, biar tidak ngrungsebi orang tuanya, tapi aku tahu orang tua akan tetap
menyayangi anaknya, semoga anaknya baikkan. Ternyata semua orang tidak
terkecuali, harus tetap berjuang, berjuang dengan ketidakpunyaan sepertiku, atau
berjuang melawan dirinya sendiri agar berubah, atau berjuang dengam keterbatasan
fisik, atau berjuang melawan lingkungan,
atau berjuang melawan yang lain, aku tidak tahu, semua orang berjuang dengan
masalahnya sendiri2, dan kita tidak bisa merendahkannya dengan mengatakan, “enak
ya jadi kamu, semuanya ada”, atau “Cuma begitu aja udah nyerah, ini saya sudah
bla bla bla “, sekecil apapun perjuangan orang lain di mata fanamu tidak pernah
kau mengerti seberapa berat perjuangannya.
Dan setelah perjuangan itu selesai akan bagaimana ?
entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi yang pasti, orang yang berjuang akan
mencapai sesuatu, maka berjuanglah dengan segenap yang kau punya. Saat lelah,
istirahatlah, atau menangis jg tak masalah, yang tak boleh adalah kau menyerah.
Ganbatte kudasai,
Dalam dekapan sang malam,
peluklah mimpi2mu,
Selamat tidur,
Tidurlah yang nyenyak,
dalam dekapan sang malam,
Pekalongan, 10 Juni 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar