Selasa, 11 Juni 2019

Setiap orang harus berjuang


hmm, 
Saat dewasa seperti ini aku merasa aku belum terlalu berjuang, dibandingkan dengan orang2 disekitarku sepertinya banyak hal bisa ku raih dengan relatif lebih mudah, atau setidaknya orang2 berkata karena itu aku, maka aku pantas mendapatkannya.
Kalau ku ingat2 lagi, menurutku sendiri aku sudah cukup berjuang saat aku kecil, mungkin orang2 disekitarku atau yang ku kenal sejak kecil akan tahu bagaimana perjuanganku (dan keluarga) sampai hari ini, karena mungkin kita berjuang bersama saat itu. Saat bercerita begini, aku selalu sedih, mengenang masa kecil selalu jadi terkenang bapak, hehe y begitulah, karena adiku selisih 1,5 tahun, aku banyak di asuh bapakku, mungkin akan ku ceritakan masa bayiku yang baru ku dengar beberapa waktu ini dari ibuku.
Aku lahir dengan baik, singkat cerita saat aku masih umur beberapa bulan, ibuku mengandung lagi, karena kecelakaan, hehe kayaknya KB nya nggak berhasil gitu, bahkan sampai bapakku dipukuli ibuku, hehe nggak dipukuli, maksudnya marah sampai memukul, karena bercampur bingung kan ya, ini anak 3, jaraknya deket2, sedangkan kita bukan orang berpunya, makane ibuku bersikap begitu, padahal itu bukan salah bapakku kan y, kan udah pakai KB, tapi y memang takdirnya begitu, hehe bapakku diam saja waktu itu katanya. Itulah hebatnya bapakku. Akhirnya aku hanya disusui sekitar 9 bulan, entahlah ini berpengaruh atau tidak, tapi daya tahan tubuhku sepertinya memang paling rendah diantara saudara2ku, gampang masuk angin, hehe y aku cukup sering sakit ringan ketika saudara2ku sehat2, dan ya begitu aku tidak tumbuh tinggi, sebenarya tubuhku standar si, hanya yang lain lebih gede aja, wkwk alibi.
Karena melihat kondisi keluargaku yang memprihatinkan, maka keluarga dari ibu datang, untuk apa ?, mereka meminta mengasuhku, aku yakin niat mereka baik sekali, tapi keluargaku menolak karena aku adalah anaknya. Tidak hanya keluarga ibuku, seorang guru di SD juga meminta ku jadi anak angkatnya, guru itu baik, cukup mapan menurutku, beliau sudah punya motor saat yang lain belum punya, permintaan itu pun di tolak. Saat aku mulai sekolah, guru itu sering memboncengku berangkat sekolah, padahal kalau ku pikir2 sekarang2 ini, beliau harusnya bisa lewat jalan lain yang lebih dekat dan efisien, dibanding lewat depan rumahku, apakah hanya kebetulan, atau sengaja ? aku tidak tahu, jahat sekali aku, sejak masuk SMP dan tidak pernah bertemu, aku bahkan tidak pernah tahu bagaimana kabar beliau, dimana sekarang, entahlah, aku tidak pernah tahu fakta tentang beliau sampai beberapa hari kemarin. Beliau baik sekali, semoga niat baik dan kebaikannya selama ini padaku di balaskan oleh Alloh.
Saat aku masih dalam buaian ini, ayahku mulai bekerja sebagai penjaga SD, dan ibuku dengan bantuan seseorang mulai berjualan jajan anak SD, bisa dibilang tanpa modal. Maksudnya, ibuku ngambil jajan di orang itu, tanpa membayar, lalu besoknya pas sudah laku baru membayar sekalian ngambil lagi, begitu seterusnya bahkan sampai aku besar. Saat aku mulai nalar, aku dan saudara2ku tentu saja tidak menjadi anak yang durhaka, hehe nakal si memang. Perjuanganku dimulai.
Aku masih ingat, kami pernah hidup tanpa listrik, penerangannya menggunakan lampu teplok (dian) atau  apa y namanya, pokoknya yang ada api ditutup kaca lengkung itu. Kami tidur berlima satu tempat tidur, apa yang kami mainkan sebelum tidur ? yaps, permainan siapa yang paling cepat tidur, walaupun aku belum tidur, aku akan diam saja bahkan dengan gurauan ibuku “wah beni sudah tidur” padahal pikiranku sadar, tapi karena aku tidak mau kalah, aku diam dan entah sampai kapan tanpa sadar aku tertidur. Tidak ada kasur waktu itu, tapi aku merasakannya sekarang, itu sangat hangat dan menyenangkan. Saat aku dan saudaraku tumbuh besar, bapakku tidur di mbale,aku mbuntut, hehe jadilah kita tidur berdua, mungkin sejak itu aku jadi dekat sekali dengan bapak, dekat itu maksudnya secara emosional, aku tetap takut sama bapakku pas kecil, hehe.
Ketika listrik sudah terpasang di rumahku, keluargaku terasa lebih baik, karena bisa berjualan es, kami beli freezer, kayanya utang, hehe kayanya keluargaku disekitarku yang paling awal beli, jadi belum banyak saingan. Dagangan es lumayan laris, baik di sekolah maupun di rumah, akhirnya kami buka cabang, wkwk, karena rumahku dekat dg SD 2, ibuku jualan di rumah, dan bapak jualan di SD 1 sekaligus jadi penjaga disana. Kami bersaudara sekolah di SD 1 semua. Ekonomi kami cukup membaik, meski belum bisa dibilang sudah stabil. Setidaknya, kami tidak makan mie instan 2 bungkus untuk berlima, atau 2 telur di dadar lalu digoreng setipis mungkin agar bisa dibagi, hehe aku dulu paling jago bikin telur dadar setipis mungkin. Bahkan kita bisa beli susu, hehe (sedih banget nulis ini).
Alarmku bangun tidur adalah saat bapakku memasukan es ke dalam termos, aku langsung bangun, dulu kadang sholat, kadang nggak jg, lalu masku dan aku akan mengantar es gotongan ke seberang bukit pagi2 subuh, jalan kaki, kadang nyeker, wkwk karena licin, pernah sekali aku pas ditanjakan terpeleset dan terbanting keras, kalau tidak salah kakiku terkilir, aku lupa waktu itu aku tetap berangkat sekolah atau tidak, yang jelas aku tidak jadi mengantar es itu bareng masku.
Di sekolah, saat jam istirahat tiba, ketika yang lain main2, aku harus melihat ke warung, ada bapakku atau tidak, jika ada, maka itulah waktuku bermain, jika tidak, mungkin ada masku, jika tidak, maka berarti aku yang harus jagain, saat masku lulus, tentu aku jadi lebih sering jaga, saat pulang sekolah, bapakku beres2 dan mengunci pintu, aku dan saudara2ku membereskan jajanan itu, lalu pulang duluan, karena bapakku akan mencuci piring, gelas, dan lain2 yang aku tidak bisa membantu. Aku jadi tidak enak kadang2 pas sekarang aku jd guru, teh dibuatkan, tinggal minum, selesai, terus ditinggal, hehe aku hanya bisa membantu mengumpulkan gelas teman2 guru yang berserakan, agar mudah diambil. Belum masalah ngangsu air, atau cari kayu bakar, entah sudah berapa kali kaki terkilir, otot terkilir, nyolong nanas (nggak nyolong si, kan daripada mubazir, hehe), makan degan (punya sendiri), oh ngomong2 soal degan, ini pengalaman traumatis, aku jadi tidak berani manjat pohon kelapa, jadi ceritanya aku pengin degan tuh, aku manjat tuh pohon kelapa, karena licin dan kakiku agak terpeleset, akhirnya ku pegangan batang pohon kelapa dengan erat, alhasil tanganku keslusuben (bahasa indo nya apa ya, tertusuk tapi nyungsep tusukannya), lumayan banyak di tanganku, sakit sekali, nggak ada duanya, disuntik nggak ada apa2nya. Sampe sekarang ku nggak mau, mending nyuruh orang aja kalau naik pohon kelapa, hehe.
Masa kecil yang berat.
Ku pikir masa kecilku cukup keren bahkan saat di bayangkan oleh diriku yang sekarang, maksudku ternyata aku yang pemalas ini pernah melewati perjuangan seberat itu, hehe bahkan aku tak menyangka aku bisa melewatinya, iya aku selalu ranking satu pas SD, masku jg, adiku nggak si, tapi beberapa kali rangking satu juga, aku di banggakan karena aku pintar, aku bisa melakukan banyak hal, aku sudah pergi ke tempat yang jauh (ke kebumen hehe hanya juara satu kecamatan yang bisa membawaku ke kebumen), aku merasa bisa diandalkan.
Apakah ada orang lain yang lebih berjuang dariku ? tentu saja banyak, terlebih orang tuaku, ayah, hehe sedih lagi kan, entah rencana Alloh seperti apa, aku juga tidak tahu, tapi aku sedih sekali,  saudara2ku juga tentu saja, apalagi ibuku, bahkan tidak kuat mengantar bapakku pas dikuburkan. Aku masih bertanya kenapa harus waktu itu ?  saat ekonomi kita sudah membaik, saat aku sudah kuliah, saat adikku juga sudah kuliah, saat masku sebentar lagi wisuda, saat aku sudah bisa membanggakanmu dg keluar negeri, saat sebentar lagi, saat aku sebentar lagi berhasil, kenapa tidak sekarang saja, saat masku sudah punya anak, itu berarti kau sudah punya cucu, saat sekarang aku sudah jadi CPNS, saat adiku sebentar lagi wisuda, aku masih bertanya, kenapa harus waktu itu ? dan ku belum menemukan jawabannya, aku percaya suatu saat nanti akan terjawab, dan aku tahu itu terbaik, aku hanya butuh jawaban.
Saat sekarang aku sudah dewasa, aku kembali melihat dan berpikir bahwa sebenarnya semua manusia, setiap orang harus berjuang. Kupikir, dulu orang yang punya ilmu agama yang bagus, orangnya baik hati, akan hidup relatif lebih mudah, maksudku lebih nyaman, tapi aku salah besar, aku belajar, guruku yang baik hati tidak kurang suatu apa, ngerti agama, bisa dan mengajarkan kitab padaku dan yang lain, disegani orang, tapi ternyata anaknya sendiri yang jadi tempat mereka berjuang, suwer, anaknya pengin ku b**** saja, biar tidak ngrungsebi orang tuanya, tapi aku tahu orang tua akan tetap menyayangi anaknya, semoga anaknya baikkan. Ternyata semua orang tidak terkecuali, harus tetap berjuang,  berjuang dengan ketidakpunyaan sepertiku, atau berjuang melawan dirinya sendiri agar berubah, atau berjuang dengam keterbatasan fisik,  atau berjuang melawan lingkungan, atau berjuang melawan yang lain, aku tidak tahu, semua orang berjuang dengan masalahnya sendiri2, dan kita tidak bisa merendahkannya dengan mengatakan, “enak ya jadi kamu, semuanya ada”, atau “Cuma begitu aja udah nyerah, ini saya sudah bla bla bla “, sekecil apapun perjuangan orang lain di mata fanamu tidak pernah kau mengerti seberapa berat perjuangannya.
Dan setelah perjuangan itu selesai akan bagaimana ? entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi yang pasti, orang yang berjuang akan mencapai sesuatu, maka berjuanglah dengan segenap yang kau punya. Saat lelah, istirahatlah, atau menangis jg tak masalah, yang tak boleh adalah kau menyerah.
Ganbatte kudasai,
Dalam dekapan sang malam,
peluklah mimpi2mu,
Selamat tidur,
Tidurlah yang nyenyak,
dalam dekapan sang malam,

Pekalongan, 10 Juni 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar